"Hasil autopsi luar, terdapat 26 luka di kepala dan wajah, 23 luka di kedua tangan dan satu luka di punggung bawah," kata Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Muhammad Solikhin Fery kepada wartawan di kantornya, Jalan Gajah Mada, Mojosari, Senin (29/1/2018).
Dari puluhan luka yang ditemukan di tubuh korban, lanjut Fery, terdapat beberapa luka yang paling parah. Di antaranya luka bacok sepanjang 12 cm di pipi kiri, luka sepanjang 15 cm di kepala belakang sampai leher dan luka serupa di bawah dagu.
Selain itu, luka akibat senjata tajam dengan kedalaman 4 cm ditemukan di punggung korban. Puluhan luka tersebut yang mengakibatkan Huda tewas kehabisan darah.
"Alat yang dipakai membunuh korban belum ditemukan. Dugaan kami berupa parang yang ujungnya melengkung. Karena lukanya ada yang lurus, ada yang luka bekas ujung senjata tajam yang menancap," ujarnya.
Fery memastikan, rambut yang ditemukan di lokasi penemuan mayat merupakan rambut korban. Sementara benda mirip sarung pedang samurai ternyata rangsel alat semprot hama milik warga sekitar yang tak terpakai.
"Itu tak ada kaitannya dengan kasus ini," terangnya.
Sejauh ini, tambah Fery, pihaknya telah memeriksa 5 saksi terkait tewasnya Huda. Pelaku pembunuhan dan motifnya, sampai saat ini masih ditelusuri.
"Saksi yang sudah kami periksa yang menemukan mayat korban dan orang yang terakhir kali bertemu dengan korban," tandasnya.
Miftachul Huda ditemukan warga tewas di saluran irigasi Dusun Kedawung Wetan, Desa Mojoranu, Sooko sekitar pukul 06.00 WIB. Korban diketahui asal Dusun Sawahan, Desa/Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro.
Sehari-hari Huda bekerja di bengkel las pagar Desa Canggu, Jetis, Mojokerto. Sejak 2 minggu terakhir, korban tinggal bersama istrinya Lusia Rahmawati di Desa Perning, Jetis. Pasangan ini mempunyai 1 anak perempuan berusia 11 tahun. Istri korban bekerja di pabrik plastik Wringinanom, Gresik. (fat/fat)











































