DetikNews
Minggu 28 Januari 2018, 09:24 WIB

Ini Kisah Mbah Waseni Jadi Kusir Andong Selama 37 Tahun

Charolin Pebrianti - detikNews
Ini Kisah Mbah Waseni Jadi Kusir Andong Selama 37 Tahun Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Menjadi kusir delman kini tak mengasyikkan seperti dulu. Sebab, pasalnya jumlah penumpang setiap tahunnya bukannya bertambah, malah berkurang. Hal inilah yang dirasakan oleh Mbah Waseni yang sudah menjalani profesi kusir sejak 37 tahun silam.

"Kalau dulu bisa sampai Rp 200 ribu/hari, sekarang cuma Rp 80 ribu paling ramai, kalau sepi hanya Rp 50 ribu/hari," tutur Mbah Waseni saat ditemui detikcom di Pasar Bungkal, Ponorogo, Minggu (28/1/2018).

Warga Desa Bancar, Kecamatan Bungkal, Ponorogo ini mengaku setiap hari selalu berangkat subuh dan pulang siang hari demi mencari penumpang. ""Saya biasa mangkal di Pasar Bungkal, Balong dan Jetis," jelasnya.

Pantauan detikcom di Pasar Bungkal ada 7 andong yang terparkir. Menurut Mbah Waseni jumlah ini jauh berkurang dibandingkan dulu sebelum ada kendaraan bermotor seperti saat ini.

"Kalau dulu ada 30-an andong, sekarang tinggal sedikit, karena kalah saingan," terangnya.

Beberapa orang masih bertahan jadi kusir andong/Beberapa orang masih bertahan jadi kusir andong/ Foto: Charolin Pebrianti


Tahun 1960-an di Ponorogo, lanjut Mbah Waseni, alat transportasi utamanya adalah andong. Namun memasuki tahun 2000-an jumlah andong semakin sedikit menyusul banyaknya kendaraan bermotor. "Sebelumnya, orang lebih memilih naik angkot, lalu beralih lagi naik ojek, sekarang malah banyak yang bawa motor sendiri. Jadi, andong jadi kalah pamornya," paparnya.

Dia pun berharap ada perhatian lebih dari Pemkab Ponorogo agar kelestarian andong sebagai alat transportasi tetap berjalan. Bahkan kalau bisa masyarakat lebih memilih mengendarai andong ketimbang motor atau mobil. "Ya pengennya lebih diperhatikan, lebih ramai (penumpangnya,red)," tegasnya.

Bapak satu orang anak ini pun tak pelit memberikan informasi bagaimana tips merawat kuda agar selalu bugar. "Kuda ini juga harus diberi jamu, 10 telur ayam tiap minggu," ujarnya.

Selain itu, setiap hari kuda harus terpenuhi kebutuhan pakannya, seperti katul dan rumput. Dalam satu hari, satu ekor kuda bisa menghabiskan satu karung penuh rumput. "Katul juga seminggu bisa habis Rp 80 ribu," imbuhnya.

Tak hanya kuda saja yang diperhatikan, Mbah Waseni juga selalu merawat andongnya. Menurut Mbah Waseni, andong bisa digunakan dalam jangka waktu puluhan tahun. "Perawatan yang utama adalah rodanya harus rajin dicek, terus bagian-bagian lain seperti tempatnya kuda, penutup mata kuda dan kursi penumpang juga harus dicek," pungkasnya.

Kini, Mbah Waseni hanya bisa pasrah dengan keberadaan andong yang kian hari tidak banyak diminati. Dia pun memilih bertahan hingga suatu ketika dirinya tak mampu lagi menjadi kusir.


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed