Akibatnya, kondisi imunitas ayam menurun drastis dan banyak terjangkit penyakit. Selain itu pertumbuhan ayam menjadi lambat yang berpengaruh pada bobot daging.
"Sejak ada aturan pakan tidak boleh dicampur antibiotik, produksi daging ayam menurun drastis. Soalnya ayam jadi sakit-sakitan, tidak cepet gemuk, jadi bobotnya juga berkurang," kata peternak ayam pedaging di Desa Subontoro, Ponggok Kabupaten Blitar, Erik Permana kepada detikcom di lokasi, Kamis (25/1/2018).
Erik juga menilai, kualitas doc (Bibit ayam) jelek, sehingga rentan terkena penyakit apalagi di musim penghujan seperti sekarang. Dengan populasi ayam sebanyak 5.000 ekor, biasanya Erik mampu menjual 25 ton daging ayam. Namun setelah aturan itu berlaku, bobot daging ayam yang dihasilkan turun menjadi 17 ton.
Hal senada diungkapkan Indra Irawan, peternak asal Desa Sumbernanas, Kecamatan Ponggok. Dengan populasi sebanyak 2.500 ayam, produksi dagingnya menurun hingga 2 ton/panen.
"Dulu ayam 2.500 itu bisa menghasilkan daging sampai 11 ton. Sekarang ini hanya mampu 9 ton," ungkapnya.
Tak hanya penurunan bobot daging, Indra bahkan mengalami gagal panen bulan lalu. Ayam yang seharusnya dipanen di umur 36 hari banyak yang mati.
"Ayam umur 30 hari itu banyak yang mati. Penularannya sangat cepat dalam hitungan jam lho," akunya.
Hingga pukul 13.30 WIB, Dinas Peternakan Kabupaten Blitar belum dapat dikonfirmasi.
Informasi yang dihimpun detikcom, harga ayam potong dari peternak, hari ini Rp 18.200/kg. Sementara di pasar tradisional, kalangan pedagang daging ayam menjual harga Rp 33 ribu/kg. Harga ini mengalami penurunan, setelah pekan kemarin mencapai harga Rp 37 ribu/kg. (fat/fat)











































