DetikNews
Minggu 21 Januari 2018, 14:25 WIB

Peristiwa

Jalur Utama Longsor 200 Meter, Ini Langkah Pemkab Trenggalek

Adhar Muttaqin - detikNews
Jalur Utama Longsor 200 Meter, Ini Langkah Pemkab Trenggalek Longsor menutup jalan sepanjang 200 meter (Foto: Adhar Muttaqin)
Trenggalek - Pemkab Trenggalek akan menyiapkan strategi khusus untuk melakukan pembukaan jalur utama Kampak-Munjungan yang tertimbun tanah longsor. Dimungkinkan proses pembersihan longsor membutuhkan waktu lebih dari satu minggu.

Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Trenggalek Kusprigianto mengatakan, proses penanganan tidak bisa dilakukan sembarangan mengingat volume longsor cukup besar. Selain itu kondisinya juga masih labil.

"Untuk prosesnya nanti kami lihat kondisi dulu, karena tanahnya gembur dan bisa membahayakan tim dari BPBD maupun Dinas PUPR (Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat)," katanya saat ditemui di lokasi bencana.

Meskipun demikian, kejadian bencana alam tersebut menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah, mengingat jalur yang tertimbun tanah longsor merupakan jalur utama antar kecamatan yang menghubungkan antara Kecamatan Kampak dengan Kecamatan Munjungan.

Tertutupnya akses tersebut bisa megakibatkan ribuan warga di Kecamatan Munjungan nyaris terisolasi. Karena apabila akan menuju kota, warga harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh, hingga mencapai puluhan kilometer.

Jalan yang longsor ini menghubungan Kecamatan Kampak dan Munjungan Jalan yang longsor ini menghubungan Kecamatan Kampak dan Munjungan (Foto: Adhar Muttaqin)

"Ini menjadi perhatian, karena akan memutus akses ekonomi dari Munjungan ke Trenggalek maupun sebaliknya," ujarnya.

Sebelumnya tebing dengan ketinggian sekitar 100 meter longsor dan menutup jalan raya Kampak-Munjungan sepanjang 200 meter. Lokasi bencana yang berada di Dusun Jedeg, Desa Ngadmulyo, Kecamatan Kampak, Trenggalek. Timbunan material tanah longsor memiliki ketinggian lebih dari lima meter.

Selain menutup seluruh akses jalan, tanah longsor tersebut juga mengancam perkampungan warga yang berada sekitar tiga kilomter dari titik longsor. Potensi ancaman itu terjadi karena material longsor mengarah ke sungai yang ada di dekat rumah penduduk.

Babinsa Desa Ngadimulyo, Sertu Witono, mengatakan, pihaknya telah meberikan imbauan kepada warga yang berada di sekitar aliran sungai untuk menjauh apabila kondisi air berubah menjadi coklat.

"Di perkampungan itu untuk yang masuk Desa Ngadimulyo ada sekitar tiga RT, sedangkan sisanya masuk Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko," katanya kepada detikcom.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed