BNN Gandeng Pesantren Jadi Garda Depan Cegah Narkoba

BNN Gandeng Pesantren Jadi Garda Depan Cegah Narkoba

Rois Jajeli - detikNews
Sabtu, 20 Jan 2018 19:23 WIB
BNN Gandeng Pesantren Jadi Garda Depan Cegah Narkoba
Deputi Pencegahan BNN Irjen Pol Ali Djohardi (Foto: Istimewa)
Jombang - Jumlah pencandu narkoba di Indonesia diperkirakan bertambah sekitar 40-50 orang per hari. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengajak siswa-siswi maupun santri di pondok pesantren untuk menjadi garda depan dalam pencegahan peredaran narkoba.

"BNN memerlukan kerjasama dengan semua pihak berdasarkan kemampuannya masing-masing. Pesantren Gadingmangu dan pesantren LDII (lembaga dakwah Islam Indonesia) lainnya, bisa mengambil peran. Apalagi LDII telah melarang merokok warganya. Dengan demikian, pintu untuk mencoba narkoba menjadi sulit," ujar Deputi Pencegahan BNN Irjen Pol Ali Djohardi saat menyampaikan Wawasan pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN) dan Prekusor narkotika di kalangan pelajar dan santri Pondok Pesantren Gadingmangu, Jombang, Sabtu (20/1/2018).

Dalam acara yang digelar di aula Pesantren Gadingmangu dan dihadiri sekitar 3.000 siswa sekolah SMU Budi Utomo-sekaligus santri ponpes tersebut, Ali menyampaikan pesan tentang bahaya narkoba. Serta meningkatnya pecandu narkoba di Indonesia.

"Setiap hari ada pertambahan pecandu narkoba sekitar 40 sampai 50 orang. Jumlah pecandu narkoba di Indonesia mencapai sekitar 5 juta orang," terangnya.

Perwira tinggi Polri ini menerangkan, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan dapat merusak permanen pada otak.

"Dan pilihan bagi pecandu, masuk rumah sakit atau mati," ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia bukan hanya pasar narkoba. Tapi sudah menjadi negara produsen narkoba. Terutama produksi ganja dari Indonesia, yang dikenal terbaik di dunia dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi di dunia.

Di Indonesia, hampir semua jenis narkoba juga beredar. Berbeda dengan di Amerika Utara dan Eropa yang hanya mengenal lima jenis narkoba. Sisa jenis lainnya dinilai sampah, lalu diekspor ke Indonesia.

"Bila generasi muda bangsa ini menjadi pecandu narkoba, maka bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia pada Tahun 2030, tidak akan ada artinya," jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur M Amien Adhy mengatakan, LDII Jatim telah membudayakan antinarkoba, dengan mencegah penyalahgunaan narkoba sejak dini.

"Para ulama LDII memberikan ijma' mengharamkan rokok bagi setiap warga LDII. Hal ini sebagai bentuk pencegahan bagi warga LDII, terutama generasi muda untuk tidak mencicipi narkoba," ujar Amien.

Ia menerangkan beberapa langkah pencegahan seperti, bekerjasama dengan BNN pada Mei 2017 mengadakan tes urine secara acak terhadap 100 santri di Pesantren Wali Barokah Kediri. Hasilnya, tidak ada satupun santri yang terbukti mengkonsumsi narkoba atau 100 persen negatif.

Amien menambahkan, LDII memiliki program mewujudkan Tri Sukses Generasi Penerus yakni, Mencetak generasi yang paham agama. Berakhlak mulia, serta Mandiri.

"Kami menutup celah pengaruh narkoba di kalangan generasi muda, khususnya generasi muda warga LDII. Bagi LDII, pencegahan penyalahgunaan narkotika sangat penting, karena narkotika mampu merusak generasi masa depan," tandasnya. (roi/iwd)
Berita Terkait