DetikNews
Jumat 19 Januari 2018, 07:59 WIB

Andong, Moda Transportasi yang Bertahan di Ponorogo

Charolin Pebrianti - detikNews
Andong, Moda Transportasi yang Bertahan di Ponorogo Andong di Ponorogo/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Andong merupakan kendaraan transportasi yang memanfaatkan tenaga binatang berupa kuda. Andong pada dasarnya mirip dengan kereta-kereta yang dipakai para bangsawan pada masa lalu ataupun keluarga kerajaan.

Di Ponorogo, kendaraan ini masih eksis dan menjadi andalan warga mengantar ke manapun. Meski tersedia angkutan umum pedesaan, andong masih berjejer di pinggiran jalan. Terbukti, selalu saja ada warga yang menyewa satu andong untuk membawa barang belanjaannya.

Salah satu penumpang, Mbah Partimah (82) misalnya. Dia rela menyewa satu andong untuk membawa barang dagangan berupa ketela pohon untuk dibawa pulang, usai berjualan di pasar Bungkal.

"Biasanya memang naik andong, lebih praktis," tuturnya saat ditemui detikcom di lokasi, Jumat (19/1/2017).

Menurutnya, hanya andong yang bisa membawa barang dagangannya dalam jumlah yang banyak dan bisa menjangkau rumahnya tanpa kendala. "Selain itu lebih murah dibandingkan naik kendaraan lain," jelasnya.

Hal senada diungkapkan Parti (45). Dirinya lebih baik naik andong dari pada naik motor atau kendaraan lainnya. "Kalau naik andong santai di jalan. Kalau naik kendaraan lain, tidak menjamin sesantai ini," tambahnya.

Sementara Kani (71), salah satu pemilik sekaligus pengemudi andong mengaku sudah menjalani profesi ini selama 35 tahun lamanya. Bahkan ia sudah tiga kali gonta-ganti kuda meski andongnya masih sama. "Andong saya ini bahkan sudah ada sejak tahun 1983 lalu," terangnya.

Untuk sekali jalan sejauh 2 Km, tiap penumpang hanya ditarik Rp 5 ribu saja sedangkan jika ingin menyewa satu andong, penumpang hanya ditarik Rp 15-20 ribu.

"Sekarang sudah sepi, beda sama dulu. Orang lebih suka naik motor, meski ada beberapa orang masih memilih naik andong," ujarnya.

Dirinya mengaku dalam satu bulan, Kani mampu meraup Rp 1-2 juta. Namun hasil tersebut belum dikurangi biaya untuk membeli pakan kuda. Beruntung, Kani mencari rumput dari lahannya sendiri. "Biasanya habis Rp 20 ribu untuk beli katul," paparnya.

Meski begitu, bapak satu orang anak ini mengaku bersyukur dengan pekerjaannya ini. "Daripada menganggur di rumah, enak kerja ketemu sama orang banyak," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed