DetikNews
Rabu 17 Januari 2018, 13:43 WIB

Gawat, Jember Ditetapkan KLB Difteri

Yakub Mulyono - detikNews
Gawat, Jember Ditetapkan KLB Difteri Foto: Yakub Mulyono
Jember - Kasus Difteri di Jember ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Status KLB Difteri di Jember ini ditetapkan Bupati Jember dr Faida.

Dalam rilis yang diterbitkan Humas Kabupaten Jember, sepanjang tahun 2017 terjadi 4 kasus Difteri di Jember. Di Jawa Timur, jumlah itu sama dengan kabupaten Pamekasan, Magetan, dan Kota Mojokerto. Untuk 4 kasus Difteri di Jember, tidak ada penderita yang meninggal dunia.

Dalam rilis juga disampaikan, dalam enam tahun terakhir, kasus Difteri di Jember terbanyak terjadi pada tahun 2012 dengan jumlah penderita 58 orang menyebabkan 1 orang meninggal dunia. Sedangkan korban meninggal terbanyak terjadi pada tahun 2013, yakni 5 orang dari 46 penderita.

Sejak tahun 2012, penderita Difteri di Jember juga terus menurun. Bahkan korban meninggal terakhir terjaditahun 2014, yakni 3 orang dari 12 penderita.

Bupati Jember dr Faida menegaskan, penetapan KLB Difteri ini dalam rangka memproteksi Jember secara epidemologi dari wabah Difteri. Apalagi Pemprov Jatim juga telah menetapkan status KLB Difteri di Jawa Timur.

"Harus dilakukan proteksi di daerah seperti amanah undang-undang dan instruksi Gubernur Jawa Timur agar tidak meluas dan epidemik hingga tidak ditemukan lagi kasus Difteri," kata Faida, Rabu (17/1/2018).

Oleh karena itu, Faida telah menginstruksikan untuk dilakukan imunisasi secara masif. Sasarannya adalah warga usia 1 tahun hingga 19 tahun.

"Upaya pencegahan bagi carrier (pembawa virus Difteri) dan suspect (penderita yang diduga) Difteri harus dilakukan secara gropyokan. Melibatkan seluruh fasilitas kesehatan, baik Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL)," terang Faida.

Imunisasi mencegah Difteri ini, menurut Faida bisa dilakukan di Posyandu, Puskesmas, sejumlah fasiltas kesehatan, sekolah, perguruan tinggi dan pondok pesantren. Selain itu, juga harus dilakukan monitoring yang hasilnya akan selalu dievaluasi setiap bulan.

"Ini untuk menyelamatkan masyarakat, khususnya generasi muda dari wabah Difteri," pungkas Faida.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed