DetikNews
Selasa 16 Januari 2018, 18:59 WIB

Dua Warga Suspect, Situbondo Nyatakan KLB Difteri

Ghazali Dasuqi - detikNews
Dua Warga Suspect, Situbondo Nyatakan KLB Difteri Tempat pasien suspect difteri dirawat (Foto: Ghazali Dasuqi)
Situbondo - Dinas Kesehatan Situbondo menetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa) difteri. Penetapan status dilakukan setelah dua orang warganya dinyatakan suspect difteri.

Salah satunya, bahkan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo. Satu orang lagi sudah dipulangkan dari rumah sakit, karena kondisinya membaik. Meskipun hingga kini tetap dilakukan pemantauan.

"Tahun 2017 ada 5 kasus difteri dan satu meninggal. Tahun 2018 ini ada 2 orang suspect difteri. Kepastiannya kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Surabaya. Tapi kami sudah menetapkan KLB, agar lebih waspada," kata Kepala Dinkes Situbondo Abu Bakar Abdi saat dihubungi, Selasa (16/1/2018).

Dari informasi yang dihimpun detikcom, satu warga suspect difteri yang masih dirawat di RSUD Situbondo berinisial IN. Bocah berumur 10 tahun ini merupakan warga Kecamatan Besuki. Bocah kelas 3 SD ini mengalami gejala batuk dan pilek sejak Rabu (10/1/2018) lalu. Meski diobati, kondisinya tetap tidak membaik.

Dua hari kemudian, si bocah ini pun dilarikan ke rumah sakit. Selain mengeluh nyeri saat menelan, si bocah juga terdapat keluhan psedomembran, nafas stridor, dan bulnex. Saat didiagnosa lebih mendalam, bocah IN dinyatakan suspect difteri.

Satu kasus suspect difteri lainnya, diderita seorang gadis berumur 18 tahun asal Kecamatan Jangkar. Penderita berinisial AI ini mulai mengalami gejala nyeri saat menelan dan demam, pada Selasa (9/1/2018) lalu. Sehari berikutnya, santriwati sebuah ponpes di Situbondo ini dibawa ke dokter. Hasil pemeriksaan, penderita dinyatakan suspect difteri hingga langsung dilarikan ke RSUD Situbondo.

"Petugas medis sudah melakukan sejumlah tindakan terhadap pasein. Satu pasien malah sudah pulang karena membaik. Sebelumnya juga telah dilakukan pengambilan sampel usap tenggorokan. Sampel sudah kami kirim BBLK Surabaya. Kami masih menunggu hasilnya," tandas Abu Bakar.

Pengambilan sampel, sambung Abu, bukan hanya dilakukan terhadap pasien. Tetapi terhadap kontak erat pada keluarga pasien. Sebab, penyebaran difteri yang disebabkan bakteri bisa terjadi melalui sentuhan dan dahak atau batuk. Karena itu, sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, pihaknya telah melakukan imunisasi terhadap keluarga dan yang memiliki kontak erat dengan pasien.

Di samping itu, dinkes juga akan segera melakukan langkah dan gerakan. Baik berbentuk penyuluhan maupun imunisasi terhadap seluruh warga dari anak usia 1-19 tahun se-Situbondo.

"Kalau nanti hasil pemeriksaan laboratorium ternyata positif, maka pasien harus dirujuk lagi. Karena yang akan disuntikkan bukan lagi vaksin, tetapi serum," papar Abu Bakar.

Direktur RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo, dr Tony Wahyudi membenarkan, jika sejak tahun 2018 ini pihaknya telah menangani 2 pasien suspect difteri. Namun satu pasien telah dipulangkan karena kondisinya membaik. Saat ini pihaknya sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Surabaya untuk memastikan apakah 2 pasien itu benar-benar menderita difteri atau tidak.

"Untuk pengiriman sampel ini kami kerja sama dengan Dinkes untuk dikirim ke provinsi. Kami juga menunggu hasilnya," papar Tony.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed