DetikNews
Selasa 16 Januari 2018, 08:03 WIB

Ini Perbedaan Perajin Keris Zaman Dulu dan Zaman Now

Charolin Pebrianti - detikNews
Ini Perbedaan Perajin Keris Zaman Dulu dan Zaman Now Keris zaman now/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Jika dulu membuat keris dengan cara manual, kini perajin keris bisa menggunakan mesin. Hasilnya pun bisa lebih cepat dan lebih efisien. Jika keris zaman dulu untuk senjata, zaman now, keris untuk dipajang.

Seorang perajin keris asal Ponorogo, Gondo Puspito membenarkan hal itu. Perbedaan utama keris selain menggunakan mesin dalam membuatnya, bahan yang digunakan juga berbeda.

"Kalau dulu pakai batu meteor, sekarang pakai nikel," tuturnya kepada detikcom saat ditemui di rumahnya, Jalan Ternate, Mangkujayan, Ponorogo, Selasa (16/1/2018).

Selain itu perbedaan mencolok lainnya, lanjut Gondo, penggunaan keris zaman dulu dengan zaman now berbeda. "Perbedaan zaman dulu, keris digunakan sebagai senjata, sedangkan kini keris digunakan sebagai hiasan dalam acara budaya," terangnya.

Meski ia menggeluti usaha kerajinan keris beberapa tahun lalu, namun pesanan keris terus mengalir. Terutama dari luar kota, seperti Kalimantan. "Tapi tetap paling banyak orang Jawa yang pesan," jelasnya.

Gondo mengaku keris yang paling banyak diminati keris jenis Paku Buwono dan Mataraman. Sebab Ponorogo wilayah Kerajaan Mataraman, termasuk Madiun, Ngawi, Magetan dan Pacitan. "Kedua keris itu yang banyak peminatnya," ujarnya.

Bapak dua orang anak ini menjelaskan jika awalnya ia bukanlah perajin keris, melainkan perajin warongko atau tempat keris. "Awalnya sekitar empat tahun lalu, tak sengaja saya mencoba membuat keris untuk saya sendiri, tidak tahunya ada teman yang tertarik, ternyata cocok dan banyak pemesan hingga kini," paparnya.

Keris zaman dulu pakai batu meteor/Keris zaman dulu pakai batu meteor/ Foto: Charolin Pebrianti


Pria yang juga pecinta keris ini membanderol keris buatannya mulai dari Rp 3-7 juta dengan panjang keris antara 33-37,5 cm. Gondo pun tak pelit membagikan cara membuat keris, pertama memilih bahan yang akan digunakan mulai dari besi, baja dan nikel atau yang biasanya disebut dalam istilah Jawa 'Pamor'.

"Ada pula pemesan yang ingin kerisnya istimewa, jadi saya harus memilih hari baik dan sesajen," katanya.

Kedua, besi, baja, dan nikel harus digembleng dengan cara ditempa oleh pandai besi. "Uniknya pembuatan keris ini perpaduan antara besi, baja dan nikel yang mempunyai titik lebur berbeda," tukasnya.

Ketiga, saat sudah melunak ketiga bahan tadi ditatah dan dipasang gonjo, lalu dihaluskan dan disepuh yang bertujuan mengeraskan. Keempat, lanjut ada campuran dari bubuk bata merah, sulfur dan garam ditempatkan dalam satu wadah kemudian keris ditancapkan dalam wadah tersebut, proses ini disebut dikamal. Nantinya saat proses kamal ini bagian luar keris yang belum rapi akan keropos sehingga memunculkan bentuk pamor.

"Proses ini yang memakan waktu paling lama bisa satu hingga empat minggu," imbuhnya.

Terakhir, keris diukir dan diberi handle kemudian ditutup dengan penjamasan atau dicuci hingga bersih. "Sebelum dibuatkan, biasanya pemesan keris menentukan besi yang akan dipakai," tambahnya.

Menurut Gondo, pemesan keris biasanya datang dari kalangan usia 30 tahunan. Ia berharap perajin keris semakin tahun semakin banyak. "Harapannya ada generasi penerus yang melestarikan budaya warisan leluhur," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed