Perajin Anyaman Bambu Bertahan di Tengah Gempuran Bahan Plastik

Suparno - detikNews
Senin, 15 Jan 2018 08:01 WIB
Perajin anyaman bambu di Sidoarjo/Foto: Suparno
Perajin anyaman bambu di Sidoarjo/Foto: Suparno
Sidoarjo - Di tengah gempuran perlengkapan rumah tangga berbahan plastik, stainless stee dan enamel, namun perajin anyaman bambu di Sidoarjo ini memilih tetap bertahan.

Namun perajin anyaman bambu di Sidoarjo ini memilih tetap bertahan. Meski saat ini bahan baku bambu susah tidak mudah lagi didapat. Sekilas peralatan rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu terlihat sederhana. Namun perajin anyaman bambu ini mengaku mampu mencukupi kehidupan 20 Kepala Keluarga (KK).

Bahkan perajin anyaman bambu asal Desa Saketi, Kecamatan Balongbendo, ini sering menolak pesanan, karena sudah melebihi kuota.

Desa Saketi ini terletak sekirar 25 Km arah barat Kota Sidoarjo. Sebanyak 20 KK ini masih menjaga tradisi leluhur dengan bekerja sebagai perajin anyaman bambu alat peralatan rumah tangga. Konon kerajinan bambu ini pertama kali muncul di desa ini sekitar 1960-an.

Salah satu perajin Qosim mengatakan, masyarakat sekitar desa ini sudah puluhan tahun berptofesi sebagai pengrajin anyaman bambu. Dirinya mengaku belajar otodidak dari kedua orang tua dan leluhurnya.

"Sudah 20 tahun keluarga ini menekuni usaha anyaman bambu ini," kata Qosim kepada detikcom di rumahnya sambil membuat anyaman, Senin (15/1/2018).


Perajin anyaman bambu di Sidoarjo/Perajin anyaman bambu di Sidoarjo/ Foto: Suparno


Qosim mengaku, dalam satu bulan, dirinya mampu menyelesaikan pesanan 160-170 buah anyaman. Bentuknya bermacam-macam. Seperti, tampah, kalo dan irig. Pembuatan barang dapur ini tergantung dari ketersediaan bahan baku dan cuaca pada saat mengeringkan bambu yang sudah dibelah.

"Semua perajin anyaman bambu di desa ini malah kebanjiran pesanan. Semua pembeli datang sendiri ke rumah, bahkan memberikan uang terlebih dahulu," terang Qosim.

Meski bahan yang didapat sulit, namun dirinya tidak mematok mahal harga anyaman bambu. "Harga hasil perajin pun murah hanya Rp 11 ribu per biji. Dan untuk pemasaran tidak mengalami kesulitan lagi, karena ada tengkulak yang mengambil sendiri," terangnya.

Sementara Kepala Desa Seketi, Poerwanto mengungkapkan, pihak desa sudah memfasilitasi semua keperluan perajin bambu ini. Fasilitas tersebut di antaranya kemudahan dalam pemasaran, bahan baku hingga ada pelatihan bagi pemuda-pemuda desa dalam pengembangan produk anyaman bambu.

"Semua kebutuhan bagi perajin, pihak desa berusaha memfasilitasi, karena anyaman bambu ini sudah menjadi ikon Desa Seketi," Kades Poerwanto kepada detikcom.

Namun, tambah Poerwanto, perajin mengeluhkan ketersediaan bahan baku bambu yang sulit didapat. Bahkan perajin harus mencari bambu hingga ke kabupaten lain. Karena saat ini di desanya sudah jarang warga yang menanam bambu.

"Kami membantu untuk mencari bahan baku hingga ke kota lain. Seperti, Trenggalek, Lumajang, dan Pacitan, karena stok di Sidoarjo sudah menipis," jelasnya. (fat/fat)