DetikNews
Sabtu 13 Januari 2018, 09:41 WIB

Kemajuan Zaman Kikis Tradisi Gemblak di Ponorogo

Charolin Pebrianti - detikNews
Kemajuan Zaman Kikis Tradisi Gemblak di Ponorogo Foto: Istimewa
Ponorogo - Gemblak dicap sebagai tindakan homoseksual antara warok dengan gemblakan. Kini tradisi gemblak sudah menghilang di Ponorogo. Hilangnya tradisi ini disinyalir karena kemajuan zaman.

Seperti yang diungkapkan penggiat seni sekaligus pemilik sanggar tari Kartika Putri, Sudirman. Gemblak menghilang akibat pendidikan yang masuk ke dalam wilayah pedesaan.

"Sesuai instruksi Presiden sekitar tahun 1980an kan banyak SD Inpres, sehingga banyak anak-anak yang mulai bersekolah," tutur Sudirman kepada detikcom saat ditemui detikcom di SMPN 1 Jetis, Jalan Raya Trenggalek-Ponorogo, Sabtu (13/1/2018).

Karena awal hadirnya gemblak, lanjut dia, untuk mendidik seorang anak laki-laki menjadi salah satu pelaku seni reog yaitu penari jathil. "Kalau dulu kan tahun 1970an anak-anak itu menganggur tidak ada kegiatan, jadi ikut dijadikan gemblak," terangnya.

Saat ini, gemblak sudah tidak ada di Ponorogo, namun digantikan dengan istilah anak angkat atau anak asuh yang dimiliki oleh orang perseorangan. "Kalau gemblak kan dimiliki oleh komunitas warok, kalau sekarang tidak ada lagi," ujarnya.

Hal senada juga diutarakan akademisi pemerhati seni reog, Ridho Kurnianto bhawa tradisi gemblak hilang setelah kemajuan zaman. Zaman dulu seorang warok dianggap sebagai kanoragan atau yang memiliki ilmu supranatural, namun tahun 1987-1990an warok berubah menjadi seorang tokoh yang punya kontribusi.

"Karena masyarakat Ponorogo tahun 1990an ke bawah era mistik, kanoragan itu identitas warok, lalu tahun 1990an ke atas berkembang warok ketokohan," paparnya.

Alumni UIN Malang ini menambahkan tradisi gemblak menghilang seiring berkembangnya warok ketokohan. "Warok sekarang jadi pelaku seni atau penggiat seni reog, jathil juga seperti itu," jelasnya.

Apalagi saat ini, penari jathil tidak lagi dilakukan oleh penari pria yang berasal dari gemblak, melainkan ditarikan oleh penari perempuan. "Pelestarian reog harus tetap berjalan, meski penari jathil berubah jadi perempuan," pungkasnya.


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed