DetikNews
Sabtu 13 Januari 2018, 08:08 WIB

Tradisi Gemblak Erat dengan Kesenian Reog Ponorogo

- detikNews
Tradisi Gemblak Erat dengan Kesenian Reog Ponorogo Penampilan Sudirman saat menari jathil/Foto: Istimewa
Ponorogo - Tradisi gemblak erat kaitannya dengan kesenian reog. Pasalnya, adanya gemblak memunculkan penari jathilan yang ada di pertunjukan reog. Jathilan tarian mempertontonkan kegagahan seorang prajurit.

Penggiat seni, Sudirman menerangkan tradisi gemblak secara turun temurun sudah ada di bumi reog. Gemblak termasuk kultur budaya nenek moyang zaman dulu.

"Kita mungkin penerusnya, keturunannya mengikuti begitu saja tanpa tahu maknanya, dulu mbah, bapak maupun canggah (cicit,red) kita seperti ini, nah yang saya ketahui gemblak itu adalah dijadikan penari jathilan," tuturnya saat ditemui detikcom di SMPN 1 Jetis, Jalan Raya Trenggalek-Ponorogo, Sabtu (13/1/2018).

Ponorogo memang dikenal dengan kesenian reog. Zaman dulu reog itu milik masyarakat di pedesaan dalam tanda kutip warok. Semua penarinya terdiri dari orang-orang yang kuat, dari kelompok warok, pembarong, kelonosewandono, bujang ganong, ada satu penari yang unik yaitu jathilan yang diperankan oleh anak laki-laki yang masih muda dan tampan.

Reog Ponorogo versi Ki Ageng Kutu adanya penari jathilan untuk menyindir prajurit Majapahit yang tidak memiliki sifat herois, sifat keprajuritan dan pemberani, jadi dibuatlah satire atau sindiran.

"Tarian jathilan dilakukan oleh laki-laki yang masih muda dan gagah tapi gerakannya lemah gemulai, cantik. Kok lucu sih pakaiannya laki-laki kok gerakannya kayak perempuan, ini yang dijadikan sindiran untuk para prajurit Majapahit," jelasnya.

Dirman sapaannya mengaku, untuk menjadi gemblak tidaklah sembarangan, melainkan oleh anak-anak yang special dan khusus. Mereka harus memiliki standart atau kriteria. Mulai dari usia antara 12-17 tahun, harus tampan, kulitnya bersih dan berpakaian rapi.

"Mereka harus satu tampan karena mereka akan dijadikan penari jathilan yang kita yakini penari jathilan itu sebagai mascot atau penarik dari reog tersebut ditarikan oleh seorang gemblak, makanya gemblak disini harus tampan," terangnya.

Sebelum memiliki gemblak, seorang warok harus melakukan lamaran kepada orang tua yang anaknya akan digemblak. Syaratnya mulai dari masa kontrak selama dua tahun, dimana orang tuanya nanti akan diberikan sawah garapan atau satu ekor lembu.

"Jadi kontraknya hanya dua tahun, setelah itu anaknya dikembalikan ke orang tuanya kembali ke kehidupan sosialnya, seperti sekolah dan menikah," ujarnya.

Dirman sendiri pernah menjadi gemblak seorang warok, ia bersyukur pernah menjadi pelaku seni pelestari kesenian reog pada tahun 1970-an lalu. Saat ia menjadi gemblak, ia hidup bagaikan selebritis. Mulai dari pakaian yang istimewa, harus selalu pakai kaos kaki dan sandal dimanapun berada agar menjaga kebersihan kaki.

"Diajari pula sopan santun, tata krama dan sebagainya," paparnya.

Ia pun juga berharap kepada masyarakat luas, jangan memandang sebelah mata dengan tradisi gemblak dengan konotasi negatif, seperti perlakuan homoseksual antara gemblak dengan warok. Namun baginya, hubungan warok dengan gemblak hanya sebatas bapak dan anak angkat.

"Karena biasanya yang jadi gemblak itu, orang tuanya kekurangan secara ekonomi, jadi anaknya diopeni lebih terhormat," pungkasnya.


(Charolin Pebrianti/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed