DetikNews
Rabu 27 Desember 2017, 12:43 WIB

Cerita Atlet Panahan Ponorogo yang Pensiun Lalu Jadi Pelatih

Charoline Pebrianti - detikNews
Cerita Atlet Panahan Ponorogo yang Pensiun Lalu Jadi Pelatih Salah satu peserta didik Agung sedang berlatih (Foto: Charoline Pebrianti)
Ponorogo - Sejak kecil, Agung Setiono memilih panahan sebagai olahraganya. Pada usia 7 tahun, Agung sudah berlatih panahan. Kecintaannya terhadap olahraga satu ini sukses mengantarkannya menjadi atlet panah berprestasi.

Berbagai kejuaraan sudah dikabtongi pria 28 tahun ini. Mulai dari kejuaraan mahasiswa Universitas Siliwangi Tasikmalaya 2008 mendapat 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu; kejuaraan indoor UNJ Jakarta 2007 mendapatkan 2 perak dan 1 perunggu; Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2007 mendapatkan 1 emas dan 2 perak.

Ajang yang paling bergengsi yakni di Malaysia 2008 dalam Asian University Game juga disabet Agung dengan mendapatkan perak; PON 2012 Riau mendapatkan perak; dan Kejurnas Prapon di Kutai, Kalimantan Timur dapat perak.

Setelah malang melintang menjadi atlet panah, Agung memutuskan pensiun. Sejak tahun 2013 atau saat ia berusia 24 tahun, Agung masih berkecimpung di dunia panahan dengan menjadi pelatih.

"Anak didik saya terdiri dari pelajar tingkat SD hingga masyarakat umum yang tergabung ke dalam Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Ponorogo," tuturnya kepada detikcom, Rabu (23/12/2017).

Agung saat memenangkan salah satu kejuaraanAgung saat memenangkan salah satu kejuaraan (Foto: Charoline Pebrianti)

Di Perpani Ponorogo, kata Agung, ada 30 anak didiknya yang aktif belajar panahan. Sebelum bergabung ke dalam Perpani, peserta latihan harus memiliki alat memanah mulai dari busur dan anak panah, finger tap, arm guard, dan chest guard. Latihan dilakukan setiap hari kecuali hari Senin, mulai pukul 15.00 WIB-selesai.

"Saat hari libur, mulai pukul 09.00 WIB sampai selesai," ujarnya.

Bukannya tanpa masalah, Agung mengungkapkan kendala yang harus ia hadapi sebagai pelatih. Salah satunya adalah jam latihan yang pendek di hari biasa. Sementara hari libur baru bisa maksimal latihan karena dimulai pukul 09.00 WIB.

"Kendala lain adalah, olahraga panahan ini cukup mahal sehingga peminatnya masih rendah. Juga kondisi peralatan yang sudah tidak standar lagi, butuh peralatan yang memadai," terangnya.

Terakhir, Agung berharap, prestasi panahan Ponorogo meningkat sehingga atlet-atletnya bisa mewakili Jawa Timur untuk event nasional. "Supaya bisa menjadi bagian atlet pelatnas membela Indonesia di event internasional," pungkasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed