Puluhan Ibu di Ponorogo Gotong Royong Jadi Perajin Caping

Charolin Pebrianti - detikNews
Jumat, 22 Des 2017 14:39 WIB
Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Ada puluhan ibu-ibu berusia senja memilih bekerja sebagai perajin caping. Uniknya, perajin caping di sini melakukan secara bergotong-royong.

Ada yang membuat bambu menjadi lembaran bambu tipis yang nantinya bisa dianyam jadi caping. Ada pula ibu-ibu yang bertugas menganyam setengah jadi caping. Lalu dilanjutkan oleh ibu-ibu lain agar jadi bentuk caping utuh.

Salah satu warga, Mutiani (52) saat ditemui detikcom di kediamannya mengatakan dirinya bertugas mengirat bambu atau menipiskan bambu menjadi lembaran tipis ini, sejak 10 tahun.

"Bambu yang mudah diirat itu jenis bambu apus," tutur Mutiania saat ditemui di Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jumat (22/12/2017).

Setiap hari dia mampu mengirat satu bambu apus. Pekerjaan ini menurutnya paling cocok dilakukan daripada pekerjaan lainnya, karena ia hanya mempunyai kemampuan mengirat bambu yang baik. Satu bendel bambu yang diirat dijual dengan harga Rp 30 ribu.

Perajin caping di Ponorogo/Salah satu perajin caping di Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti


Sementara ada pula Mbah Landep (84) yang terampil menganyam bambu. Sejak tahun 1984 lalu, dia sudah memproduksi caping setengah jadi. Dia hanya menganyam bambu untuk ujung caping hingga setengah jadi.

"Dalam satu hari saya bisa membuat 10 caping setengah jadi," jelasnya.

Mbah Landep menjual per satuannya Rp 4 ribu. Baginya pekerjaan inilah yang bisa dilakukan. Meski sudah berusia lanjut, tangan dan mata Mbah Landep masih teliti menganyam.

"Membuat caping ini kerjaan yang paling mudah dikerjakan di rumah sambil santai," terangnya.

Warga lainnya, ada Mbah Jemiah yang bertugas membuat blengker atau pinggiran caping agar caping tak gampang rusak. Serta ia bertugas membuat topong atau tempat kepala saat memakai caping.

Caping setengah jadi/Caping setengah jadi/ Foto: Charolin Pebrianti


"Saya beli caping yang setengah jadi, kemudian saya lanjutkan hingga jadi caping utuh," ujarnya.

Satu caping utuh ukuran sedang dijual dengan harga Rp 10 ribu. Tidak hanya membuat satu caping, warga juga membuat caping kecil, caping besar, plentis atau caping kecil, buyuk dan topi.

Kepala Dusun Agus Wiyono menambahkan Desa Karanggebang dikenal sebagai sentra pembuatan caping. Setidaknya ada 25 perajin yang tinggal di sini dalam satu bulan mampu memproduksi 500 buah caping yang dijual hingga ke Blitar.

"Selalu seperti ini, meski sentra pembuatan caping, tapi pembuatnya gotong royong, ini sudah tradisi," tambahnya.

Sementara untuk satu buah plentis dijual dengan harga Rp 3 ribu, topi Rp 3 ribu, buyuk Rp 10 ribu dan caping ujung lancip dijual dengan harga Rp 15 ribu. "Pengrajin caping di sini rata-rata usia senja, tapi generasi penerus terus ada," pungkasnya. (fat/fat)