DetikNews
Kamis 14 Desember 2017, 07:58 WIB

Warga di Mojokerto Ini Santai saat Elpiji Langka, Ini Sebabnya

Enggran Eko Budianto - detikNews
Warga di Mojokerto Ini Santai saat Elpiji Langka, Ini Sebabnya Warga di Lingkungan Randegan, Kelurahan Kedundung, Magersari, Kota Mojokerto memasak menggunakan biogas hasil dari sampah (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Puluhan warga Lingkungan Randegan, Kelurahan Kedundung, Magersari, Kota Mojokerto tak khawatir dengan kelangkaan elpiji 3 Kg. Pasalnya, mereka memanfaatkan biogas yang dihasilkan dari tumpukan sampah di TPA Randegan.

Seperti yang dilakukan Ningsih (46), warga Lingkungan Randegan. Sejak sekitar setahun terakhir, ibu dua anak ini memanfaatkan biogas yang dialirkan dari tempat pengolahan gas metan di TPA Randegan.

"Sebelumnya saya pakai elpiji melon (kemasan 3 Kg), seminggu habis satu tabung. Dengan pakai biogas ini saya tak lagi beli elpiji," kata Ningsih kepada wartawan di rumahnya, Kamis (14/12/2017).

Gas metan dari TPA Randegan dialirkan ke rumah-rumah warga Lingkungan Randegan dengan pipa. Sampai di dapur warga, dipasang sebuah kran yang menjadi katup keluarnya gas sekaligus untuk mengontrol besar-kecilnya api.

Pipa tersebut langsung terhubung dengan kompor gas milik warga. Ada juga yang membuat tungku sendiri. Hanya saja untuk menyalakannya harus dengan cara manual. Yakni, setelah kran gas dibuka, kemudian disulut menggunakan korek api.

Biogas ini berasal dari sampah di TPA RandeganBiogas ini berasal dari sampah di TPA Randegan (Foto: Enggran Eko Budianto)

Manfaat biogas ini juga dirasakan Norma (30), warga Lingkungan Randegan. Sejak menggunakan biogas, dirinya tak lagi perlu membeli elpiji. Tentunya, hal itu membuat pengeluaran bulanannya menjadi lebih hemat.

"Biogas ini dari pemerintah dikasih gratis. Pakai biogas juga tak terdampak kelangkaan elpiji," ujarnya.

Kendati begitu, kualitas api yang dihasilkan dari biogas tak kalah dengan elpiji. "Apinya bagus, tak beda dengan elpiji, juga ramah lingkungan," terangnya.

Biogas yang kini dinikmati warga, bersumber dari gunungan sampah di dalam TPA Randegan. Puluhan pipa yang ditanam di tumpukan sampah itu mengalirkan gas metan ke instalasi pemurnian gas.

Di dalam instalasi yang terdiri dari pipa-pipa ini, gas metan dipisahkan dengan uap air. Selanjutnya, biogas dialirkan ke rumah-rumah warga menggunakan blower sebagai pendorongnya. Blower ini beroperasi menggunakan timer yang menyala pada pukul 04.00-12.00 Wib setiap harinya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mojokerto Amin Wachid menjelaskan, gas metan yang dihasilkan dari pengolahan sampah di TPA Randegan saat ini telah dialirkan ke 24 rumah warga Lingkungan Randegan.

Biogas dari TPA Randegan dialirkan ke instalasi pemurnian gas.Biogas dari TPA Randegan dialirkan ke instalasi pemurnian gas. (Foto: Enggran Eko Budianto)

"Kami gratiskan mulai pipa sambungan sampai gasnya. Lumayan di saat kelangkaan elpiji seperti ini, masyarakat bisa merasakan manfaatnya," jelasnya.

Amin menjamin penggunaan biogas untuk rumah tangga ini aman karena tekanan gas yang dikeluarkan tak terlalu besar. Selain itu, pihaknya juga rutin mengontrol jaringan pipa gas metan yang terpasang di rumah-rumah warga.

Dia berharap, ke depan akan lebih banyak rumah tangga di sekitar TPA Randegan yang bisa merasakan biogas ini. "Tahun depan kami ingin memperluas setidaknya sampai 1 RW. Karena potensi gas metan kami sangat besar, sehari 45 ton sampah masuk ke TPA. Namun, saat ini terkendala pada anggaran," tandasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed