DetikNews
Rabu 13 Desember 2017, 18:19 WIB

Pengolahan Limbah Tinja di Sidoarjo ini Diapresiasi Kementerian PUPR

Suparno - detikNews
Pengolahan Limbah Tinja di Sidoarjo ini Diapresiasi Kementerian PUPR Instalasi Pengolahan Limbah Tinja di Sidoarjo ini diapresiasi Kementerian PUPR (Foto: Suparno)
Sidoarjo - Instalansi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) Griyo Mulyo di Kecamatan Jabon, Sidoarjo mendapat apresiasi dari Kementrian PUPR. IPLT dianggap berhasil dalam Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) sejak mulai beroperasi pada 2015.

"Kami bersyukur mempunyai instalasi pengolahan lumpur tinja yang ada di Jabon. Instalasi ini dibangun oleh dana APBN. Alhamdulillah kami ini sudah bisa menjalankan sebagaimana SOP yang didirikan oleh pusat dalam hal ini Kementerian PUPR. Sekarang kami menjadi rujukan daerah-daerah lain untuk pengoperasiannya," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Bahrul Amiq kepada detikcom di kantornya, Rabu (13/12/2017).

Bahrul mengatakan, Sekarang kondisi eksisting kemampuan isolasi kami itu Setiap hari rata-rata maksimal 35 meter kubik, artinya sebanding dengan 10 truk tangki kecil. Percepatan untuk penuntasan atau pengolahan sampai dimaturasi betul-betul harus memenuhi baku mutu.

"Itu memang sangat dipengaruhi oleh cuaca termasuk kalau musim penghujan. Karena di instalasi tersebut butuh penguapan, sekarang musim penghujan ini agak lama jadi membutuhkan waktu sekitar 40-50 hari," kata Bahrul.

Bahrul menambahkan, padahal kalau misalnya musim kemarau prosesnya hanya butuh sekitar 16 sampai 25 hari. Problem inilah yang memang lagi dipikirkan, dan juga menjadi bahan diskusi meskipun musim penghujan tetap bisa ada akselerasi.

"Karena limbah tinja itu banyak bakteri e-coli, semestinya harus segera di proses, agar tidak mengganggu lingkungan," tutur Bahrul.

Dalam pengelolaan, instalasi ini telah berjalan baik, tapi masih kekurangan pekerjaDalam pengelolaan, instalasi ini telah berjalan baik, tapi masih kekurangan pekerja (Foto: Suparno)

Bahrul menjelaskan bahwa bakteri e-coli itu berbahaya. Memang dampaknya tidak jangka pendek tapi jangka menengah dan jangka panjang.

"Masyarakat belum memahami, bagaimana konstruksi untuk menampung limbah tinja yang di rumah secara benar. Memang yang paling ideal ke depan itu adanya Ipal-Ipal komunal. Kami berharap nanti ke depan ini sudah bisa dijadikan formulasi kebijakan," tambahnya.

Sementara itu, Kepala UPTD IPLT Griyo Mulyo Slamet Hariyanto mengatakan, keberhasilan dalam mengelola IPLT hingga menghasilkan kompos yang berguna bagi masyarakat dianggap bukan uji coba lagi, tapi berjalan L2T2 terjadwal dan dianggap bagus di seluruh Indonesia.

"Selain Sidoarjo, Kabupaten Batu, dan Gresik juga menjadi percontohan Kabupaten. Namun di Sidoarjo masih kekurangan tenaga kerja," ujarnya.

Slamet menjelaskan, bangunan pengolahan IPLT terdiri dari: Bak Pemisah Lumpur atau kolam pembuangan pertama (Solid Separation Chamber/ SSC). Lalu di alirkan ke bak pengumpul melalui sistem gravitasi.

Dengan sistem gravitasi dialirkan ke bak an erobik 1 dan an erobik 2 sampai terakhir ke kolam maturasi standar BOD COD nya standart baku mutu. Dan setelah kering jadi kompos siap panen.

"Pada saat musim penghujan kompos yang dihasilkan 1 hingga 3 meter kubik. Biasanya jika musim kemarau dihasilkan 16 hingga 20 meter kubik per hari" tandasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed