Puluhan Pelestari Hutan Bersatu Hijaukan Lahan Kritis Gunung Bromo

Muhajir Arifin - detikNews
Selasa, 12 Des 2017 17:00 WIB
Foto: Muhajir Arifin
Pasuruan - Puluhan pelestari hutan dari 9 kecamatan di Kabupaten Pasuruan, bertekad bersatu melakukan reboisasi di lahan kritis kawasan Gunung Bromo. Selama ini, para pegiat bergerak sendiri-sendiri sehingga kurang maksimal.

"Di Kabupaten Pasuruan ada puluhan pegiat lingkungan serius menjaga kelestarian hutan. Namun selama ini mereka bergerak sendiri-sendiri. Makanya kami semua bersepakat menyatukan langkah dan menyusun agenda bersama. Penanaman pohon harus dilakukan serentak," kata Direktur Yayasan Wana Wiyata Karya Sanggar Indonesia Hijau (Si Hijau) Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Selasa (12/12/2017).

Menurut Sugiarto, peraih Kalpataru 2010 untuk kategori penyelamat lingkungan ini, menyatukan langkah, kendala yang dihadapi para pegiat lingkungan juga bisa dikurangi. Seperti konflik dengan lembaga yang berwenang atas kawasan hutan dan lainnya.

"Pertemuan-pertemuan untuk menyusun langkah-langkah penyelamatan hutan sudah kita gelar dan terus akan kita gelar," terangnya.

M Rusdi, pelestari hutan asal Kecamatan Puspo mengungkapkan semua pihak harus menyadari bahwa untuk mengantisipasi dan mengurangi berbagai bencana alam, berupa banjir dan tanah longsor serta menyusutnya sumber-sumber air, diperlukan upaya yang terpadu.

"Bersama-sama bisa melakukan penyadaran kepada warga di sekitar pinggiran hutan untuk bijak dengan alam. Bukan hanya mencegah pembalakan liar, tapi juga mengajak warga pinggiran hutan ikut menanam dan merawat pohon. Seperti yang kami lakukan di Desa Palangsari Kecamatan Puspo yang bukitnya pernah longsor dan menyebabkan banjir lumpur beberapa waktu lalu," ungkap Rusdi.

Makhrus Solikin (70), pelestari hutan yang juga pernah meraih penghargaan di bidang lingkungan, menyampaikan bahwa dengan menyamakan langkah, upaya penyelamatan lahan kritis akan bisa berlangsung maksimal. Terutama dengan penyusunan skala prioritas atas lokasi yang benar-benar rawan longsor.

"Terlebih lagi dengan adanya program pemerintah berupa perhutanan sosial, pegiat harus mampu mendampingi masyarakat. Kita harus bisa menyeimbangkan, hutan tetap lestari dan ekonomi rakyat meningkat. Di setiap kawasan hutan harus ada tegakan lohon agar bisa menyerap air," ungkap Makhrus.

Luasan hutan di kawasan Pegunungan Bromo yang mencapai sekitar 35.000 hektar kualitasnya terus menurun. Akibatnya, banjir dan tanah longsor rutin terjadi setiap musim hujan tiba. Terutama banjir di kawasan hilir yang merendam pemukiman warga di sekitar sembilan kecamatan di Kabupaten dan Kota Pasuruan.

Selain itu, banyak sumber air mati atau debitnya menurun. Seperti Sumber Umbulan yang airnya segera dimanfaatkan dalam proyek sistem penyedia air minum (SPAM) Umbulan. Beberapa tahun lalu debit airnya 6.000 liter/detik menjadi sekitar 3.500 liter/detik. (fat/fat)