Ternyata Ponorogo Dulu Terkenal Batiknya, Mengapa Redup?

Charolin Pebrianti - detikNews
Selasa, 12 Des 2017 16:21 WIB
Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Batik Ponorogo pernah berjaya tahun 1940-1970. Namun sayang, batik Ponorogo kini tidak terdengar lagi gaungnya. Meredupnya bisnis yang sempat berjaya ini ditengarai karena pengrajin batik Ponorogo tidak cepat mengikuti sistem industri. Apalagi sejak ada batik printing dari Solo dan Yogyakarta yang lebih murah.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni mengatakan pihaknya tengah tekun menggeliatkan kembali gaung batik di bumi reog. Ada beberapa langkah yang dilakukan. Mulai menciptakan identitas baru batik Ponorogo, menciptakan pasar serta penyediaan sarana dan prasarana.

"Saat ini dibangun kampung batik di Kelurahan Tambakbayan, Ponorogo di lahan seluas tiga hektar," tutur Bupati Ipong kepada detikcom, Selasa (12/12/2017).

Proyek yang menghabiskan dana Rp 7 miliar dari APBN ini diperkirakan selesai 15 Desember mendatang, untuk tahap pertama. Nantinya ada 80 pengrajin yang akan ditampung. Mulai dari bagian produksi, display dan penjemuran. Bahkan nantinya juga ada kantor UPT Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro di kawasan ini.

"Kami juga sudah melombakan desain batik Ponorogo beberapa waktu lalu, bahkan sudah saya perbup kan juga," jelasnya.

Selain itu untuk membangkitkan geliat bisnis batik, Bupati Ipong, mewajibkan pelajar, guru serta pejabat pemerintahan untuk menggunakan batik khas Ponorogo yang memiliki motif ireng reog, sekar jagad dan klitik yang berbeda dengan daerah lain.

"Cuma yang membedakan antara pelajar dan guru adalah warnanya ada yang terang dan gelap, terang untuk pelajar, gelap untuk yang dewasa," terangnya. (fat/fat)