DetikNews
Selasa 12 Desember 2017, 15:39 WIB

Langka, Batik Ponorogo Ini Gunakan Pewarna Alami

Charolin Pebrianti - detikNews
Langka, Batik Ponorogo Ini Gunakan Pewarna Alami Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Dian Fajar Riono (49), jadi satu-satunya pengrajin batik di Ponorogo yang memakai pewarna alami. Warga Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, ini 6 tahun menjalani profesi sebagai pengrajin batik.

Menariknya, ia memilih warna batik hasil karyanya menggunakan pewarna alami. Menurutnya, batik dengan pewarnaan alami memiliki bau harum khas daun dan kulit pohon yang digunakan.

"Awalnya istri belajar batik di Pacitan, terus saya belajar juga soal pewarnaan secara otodidak," tutur Fajar kepada detikcom saat ditemui di kediamannya, Selasa (12/12/2017).

Pewarnaan alami, lanjut dia, memerlukan proses yang panjang. Mulai dari pengumpulan daun juar, daun mangga dan daun bungur untuk warna hijau, kemudian ada pula akar pace, kulit pohon mauni dan secang untuk warna merah, kunyit untuk warna kuning, daun tom untuk warna biru dan warna hitam perpaduan dari warna-warna yang sudah lama dipakai.

Ia menyontohkan untuk satu karung daun hanya bisa digunakan mewarnai tiga lembar kain batik. Selain itu, untuk mendapatkan warna yang maksimal, proses pewarnaan dilakukan sebanyak 15 kali proses penyelupan dicampur air kanji, agar tidak mudah luntur.

Batik Ponorogo memakai pewarna alami/Batik Ponorogo memakai pewarna alami/ Foto: Charolin Pebrianti


"Sebelum digunakan untuk pewarna, daun-daun itu direbus selama 5 jam untuk menghilangkan getahnya," jelasnya.

Bapak dua anak ini menambahkan batik buatannya menggunakan tema kontemporer dengan hiasan bunga asoka. Pasalnya, banyak ulama Ponorogo yang menyukai bunga asoka.

"Tapi selain Ponorogo sendiri, saya juga menjual batik ke Jakarta, Kalimantan dan pernah display di China," terangnya.

Untuk satu lembar kain batik ukuran 2,4x1,15 meter ini dibanderol dengan dari harga Rp 275 ribu hingga jutaan, tergantung kerumitan warna dan motif yang digunakan. "Satu bulan bisa 20-30 lembar kain batik laku terjual," imbuhnya.

Dalam satu bulan omzet yang didapat Fajar, hingga puluhan juta rupiah. Namun sayang bagi Fajar saat ini ia masih kesulitan mencari tenaga kerja meski sudah ada 12 pekerja yang kini membantunya. Terakhir Fajar berharap batik Ponorogo bisa muncul dan berjaya seperti tahun 1965 lalu.

"Meski batik sempat terpuruk karena banyaknya batik print, kini Ponorogo juga harus menunjukkan jati diri sebagai sentra batik," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed