DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 19:57 WIB

Waspadai Mafia Tanah di Kabupaten Malang

Muhammad Aminudin - detikNews
Waspadai Mafia Tanah di Kabupaten Malang Terdakwa Imron Adi Prasetyo (rompi oranye)/Foto: Muhammad Aminudin
Malang - PT Afara Mandiri Suryatama berniat berinvestasi di Kabupaten Malang. Namun perusahaan itu justru menjadi korban penipuan. Kasusnya telah memasuki masa persidangan di Pengadilan Negeri Kepanjen.

Persidangan kali ini mengagendakan pemeriksaan saksi yakni Direktur Utama Farid Nurcahyono. Dalam sidang dengan Ketua Majelis Hakim Safruddin ini terungkap bahwa PT Afara telah memberikan uang tanda jadi sebesar Rp 100 juta melalui transfer rekening terdakwa Imron Adi Prasetyo, warga Pakisaji, Kabupaten Malang, yang mengaku sebagai pemilik tanah.

Kasus ini berawal ketika PT Afara ingin membangun hunian di wilayah Malang. Saat itu, staf yang ditunjuk bertemu dengan Imron. Imron mengaku memiliki lahan di Desa Watudakon, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, dengan luas sekitar 5.100 meter persegi.

"Saat itu terdakwa (Imron) mengaku jika lahan itu adalah milik orang tuanya. Kami meminta bukti sertifikat dan dijanjikan akan ditunjukkan secepat mungkin, sebagai bentuk komitmen pembelian, kesepakatan dibuat dengan pembayaran tanda jadi sebesar Rp 100 juta, sesuai dengan permintaan terdakwa. Itu terjadi awal Desember 2016," kata Farid dalam kesaksiannya, Kamis (7/12/20170.

"Uang kami kirim melalui rekening dua kali. Pertama Rp 10 juta ke rekening BCA terdakwa dan kemudian Rp 90 juta melalui rekening BRI 005101002552309 atas nama istri terdakwa. Lahan disepakati dijual dengan harga Rp 22,9 miliar," beber Farid.

Karena sudah ada kesepakatan, kata Farid, Tim Afara kemudian memasang umbul-umbul dan banner sebagai tanda akan dimulainya pembangunan hunian perumahan di lokasi tersebut.

"Tak berapa lama datang orang bernama Edi Honata Mulyono yang mengaku sebagai pemilik lahan. Dia marah-marah dan mengaku tidak mengenal terdakwa (Imron)," ujarnya.

Farid semakin bingung, ketika menanyakan kepada Imron (terdakwa), justru tetap menyakinkan bahwa lahan itu miliknya. Imron juga meminta Afara tidak mempercayai Edi Honata yang mengaku sebagai pemilik asli.

"Bahkan Imron bilang agar Afara tidak mempercayai Edi Honata," sambung Farid.

Dia berharap persidangan berjalan sesuai fakta, karena menyangkut kredibilitas perusahaaan. Kuasa Hukum Afara, Andika Herwanto mengatakan, terjadinya kasus ini merupakan potret investasi di Kabupaten Malang tak aman

"Investor harus ekstra hati-hati, jangan sampai ada Afara-Afara berikutnya. Niat berinvestasi justru celaka dengan praktik penipuan," ungkapnya.

Sidang kembali dilanjutkan pekan depan, majelis hakim meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Adi Kuswardi menghadirkan Edi Honata serta staf Afara yang didelegasikan dan pertama kali bertemu dengan terdakwa.

"Kami minta JPU, bisa menghadirkan Edi Honata, sebagai saksi kunci," ucap Safruddin sebelum menutup persidangan.

JPU Adi Kuswardi membantah adanya isu campur tangan orang luar dalam kasus ini, dengan tujuan mengganggu proses persidangan. "Kami tidak peduli dengan itu. Kami akan berjalan sesuai fakta dan alat bukti. Untuk kasus ini terdakwa dijerat Pasal 372 dan 378 KUHP," tandasnya terpisah.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed