DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 14:11 WIB

Wabup Trenggalek Ngantor di Desa, Warga Ramai-ramai Curhat

Adhar Muttaqin - detikNews
Wabup Trenggalek Ngantor di Desa, Warga Ramai-ramai Curhat Wakil Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin tidur di rumah warga/Foto: Adhar Muttaqin
Trenggalek - Program 'ngantor' di desa yang dijalankan Wakil Bupati (Wabup) Trenggalek, Mochammad Nur Arifin terus berlangsung. Kali ini, Wabup yang memilih menginap di salah satu rumah warga miskin di Desa Salamwates, Kecamatan Dongko.

Desa yang berada di kawasan pegunungan di Kecamatan Dongko tersebut berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Trenggalek. Sekitar Pukul 19.00 WIB, Mochammad Nur Arifin bersama sejumlah staf langsung menuju lokasi.

Seperti kegiatan sebelumnya, lokasi menginap Wabup merupakan rumah warga miskin yang berada di kawasan desa terpencil dengan akses yang relatif sulit. Guyuran hujan serta kondisi jalan yang licin tidak mengurangi semangat warga untuk menyambut kedatangan wabup termuda se Indonesia itu.

Suami Novita Hardiny tersebut langsung berbaur dengan warga dan bercengkerama layaknya warga biasa. Tak lupa kedatangan pimpinan daerah tersebut digunakan warga untuk menyampaikan atau wadul berbagai masalah pembangunan hingga sosial kemasyarakatan.

"Kenapa kami menginap di rumah warga, karena ini adalah bagian dari janji yang pernah kami sampaikan bersama pak bupati pada masa kampanye lalu. Kita ketahui Trenggalek ini memiliki 157 desa dan kelurahan, kami ingin tahu seperti apa persoalan di lapangan dan bagaimana perkembangan pembangunan," kata Mochammad Nur Arifin, Kamis (7/12/2017).

Foto: Adhar Muttaqin

Menurutnya, dalam ngantor di desa tersebut banyak hal yang bisa dilakukan, termasuk mengetahui secara langsung berbagai masalah yang terjadi di masyarakat bawah, pihaknya juga bisa menyerap langsung aspirasi masyarakat, tanpa batas birokrasi.

"Nawaitunya adalah ingin mengetahui secara langsung kondisi masyarakat, kenapa harus menginap, karena desa-desa di Trenggalek banyak yang berada di pegunungan dengan jarak yang jauh. Kalau saya ingin mengecek pelayanan di desa terus berangkat pagi, maka sampai disini sudah bubar," ujarnya.

Pihaknya mengaku, berbagai informasi yang didapatkan bisa menjadi bahan untuk mempercepat proses pembangunan. Kalaupun belum bisa terlaksana dengan cepat, minimal pihaknya mengetahui secara pasti kondisi riil di masyarakat.

"Proses pembangunan itu harus melalui berbagai tahapan dan perencanaan, kalaupun belum bisa mengeluarkan solusi secara cepat, minimal kami tahu permasalahannya. Jangan sampai tahu saja tidak, nah apalagi kebijakan yang pro rakyat," imbuhnya.

Foto: Adhar Muttaqin

Dalam kegiatan menginap di rumah Tukiyo tersebut, Wabup menerima berbagai aspirasi dari warga. Pj Kepala Desa Salamwates, Ikhwan mengatakan, salah satu problem yang kini dirasakan oleh seluruh warga adalah tidak adanya jangkauan sinyal telekomunikasi di wilayahnya.

Susahnya jaringan seluler ini sangat terasa dan menganggu komunikasi warga, utamanya dengan keluarga maupun warga lain yang ada di luar desa.

"Padahal di sini ini banyak sekali warga yang merantau ke luar kota, kalau mau telepon sangat sulit. Makanya kami mohon kepada pemerintah daerah untuk bisa memfasilitasi agar di desa ini bisa mendapatkan akses komunikasi," katanya.

Tidak hanya itu saja, sejumlah ruas jalan desa yang ada di wilayahnya saat ini kondisinya juga cukup memprihatinkan, termasuk belum layaknya fasilitas jalur angkut pertanian, sehingga para petani harus membawa hasil panen dengan cara dipikul.

Hal senada juga disampaikan warga lain, Qomar. Menurutnya, akses warga yang memadai cukup berpengaruh terhadap percepatan laju perekonomian maupun untuk keperluan akses sekolah anak-anak.

"Di sini ini juga belum ada SMP Negeri, sehingga kalau mau menyekolahkan ke sekolah negeri harus ke luar desa dengan jarak yang cukup jauh. Hal ini cukup membebani keluarga karena antar jemputnya jauh, kalau biasa sekolah swasta itu dinegerikan saja," ujar Qomar.

Foto: Adhar Muttaqin

Sementara itu, warga lain, Suhaji menyampaikan berbagai persoalan petani, terutama kelompoknya yang tengah mengembangkan padi organik. Dikatakan, semangat petani untuk mengembangkan padi organik cukup tinggi, namun saat ini mereka terkendala oleh pemasaran.

"Pemasaran kami belum bisa maksimal, karena belum tahu kemana dan bagaimana pangsa pasarnya," katanya.

Wabup yang terkenal sebagai juragan panci ini pun memberikan pencerahan terhadap sejumlah permasalahan yang dikeluhkan warga. Pihaknya mengaku masukan dan keluh kesah tersebut menjadi catatan tersendiri dan akan segera mendapatkan penyelesaian melalui instansi terkait.

"Seperti masalah padi organik ini, pangsa pasarnya cukup bagus dan harga beras organik jauh lebih mahal dibanding beras biasa. Makanya akan kami komunikasikan dengan dinas terkait, karena ini sangat penting bagi petani," ujarnya.

Usai menampung berbagai aspirasi, Wabup Mochammad Nur Arifin langsung beristirahat di rumah Tukiyo dengan tidur di atas tikar. Meskipun lantai rumah masih dari tanah, ia pun bisa tertidur nyenyak hingga pagi.
(bdh/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed