Bupati Banyuwangi Diganjar Penghargaan Santripreneur Award 2017

Bupati Banyuwangi Diganjar Penghargaan Santripreneur Award 2017

Rois Jajeli - detikNews
Sabtu, 25 Nov 2017 16:36 WIB
Bupati Banyuwangi Diganjar Penghargaan Santripreneur Award 2017
Foto: Rois Jajeli
Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kembali menyabet penghargaan. Kali ini, Anas mendapat ganjaran dari Santripreneur Award 2017, sebagai Kepala Daerah Peduli Wirausaha Santri.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara di acara Santripreneur Award (SPA) 2017 di gedung JX International Convention Center, Surabaya, Sabtu (25/11/2017).

"Terima kasih pak menteri. Penghargaan ini kehormatani bagi Banyuwangi," kata Anas di sela Santripreneur Award 2017.

Santri adalah salah satu kekuatan besar bangsa Indonesia, termasuk di bidang perekonomian. Kata Anas, santri adalah pilar ekonomi kerakyatan, maka harus berdaya saing dan memiliki daya sanding dengan dunia global.

"Ekonomi berbasis pesantren sejatinya adalah wujud ekonomi kerakyatan, karena berangkat dari potensi di sekitar pesantren, serta digerakkan oleh warga dan santri secara mandiri," terangnya.

Calon Wakil Gubernur Jatim yang berduet dengan calon gubernur Gus Ipul ini menambahkan, besarnya kekuatan ekonomi umat berbasis pesantren, jika kemudian saling diintegrasikan, akan bisa mewujudkan kekuatan ekonomi pesantren.

"Pesantren incorporated yang saling menopang. Misalnya, pesantren A di hulu, pesantren B menggarapa hilirnya, pesantren C menangani pemasarannya. Jadi akan efisien dalam satu kesatuan pesantren yang solid," paparnya.

Kepala daerah yang banyak mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri ini juga mencontohkan beberapa kebijakan yang mendorong pengembangan ekonomi daerah, termasuk bagi kalangan santri.

Seperti, menggeliatnya pariwisata yang mendorong tumbuhnya usaha mikro kecil menengah (UMKM) baru di bidang jasa transportasi, kuliner hingga kerajinan tangan.

Dia juga melarang pasar modern, karena pasar modern tersebut berpotensi menggerus pedagang-pedagang kecil yang sebagian besar juga berasal dari keluarga pesantren.

"Alhamdulillah dengan kerja gotong royong di berbagai sektor selama ini, berhasil meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi dari Rp 20,8 juta per orang per tahun pada 2010, menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016. Atau ada kenaikan sekitar 99 persen,' terangnya.

Ia menambahkan, Banyuwangi sekarang ini juga dikenal masyarakat, dan banyak dikunjungi wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri.

"Dulu tidak ada penerbangan. Sekarang ini enam kali penerbangan per hari ke Banyuwangi," tandasnya. (roi/fat)
Berita Terkait