DetikNews
Kamis 23 November 2017, 18:51 WIB

Berhasil Diuji Coba, ITS Siap Pasarkan Mesin Cetak Braille

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Berhasil Diuji Coba, ITS Siap Pasarkan Mesin Cetak Braille Salah satu siswa tunan netra membaca hasil mesin cetak (Foto: istimewa)
Surabaya - Setelah sukses mengembangkan hasil risetnya lebih baik lagi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengujicobakan mesin cetak huruf Braille hasil karya tim dosen dari Fakultas Teknologi Elektro (FTE) di sekolah luar biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Jalan Gebang Putih, Surabaya.

Mesin cetak Braille (Braille Embossers) ini merupakan mesin pencetak huruf Braille, yakni aksara yang digunakan para penyandang tunanetra untuk membaca. Sehingga hasil cetakannya pun berbeda dengan printer pada umumnya, karena huruf yang dicetak berbentuk timbul. Mesin yang dapat mencetak 1.200 halaman per jam ini dikembangkan oleh tim dosen dari FTE ITS dengan tim inti yang beranggotakan tiga orang, yakni Dr Tri Arief Sardjono ST MT (ketua tim), Ir Tasripan MT, dan Ir Hendra Kusuma MEngSc.

Tim ITS ini sebenarnya telah menggarap riset mesin cetak Braille ini sejak tahun 2012 lalu saat masih menjadi Jurusan Teknik Elektro di bawah Fakultas Teknologi Industri (FTI). Mesin cetak Braille ini merupakan pengembangan dari mesin cetak dari Norwegia yang telah dimiliki oleh sejumlah SLB di Indonesia yang kondisinya sudah tidak layak.

"Tim dari ITS saat itu diminta oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk membantu memperbaikinya," jelas Tri Arief Sardjono yang saat ini menjabat sebagai Dekan FTE dalam siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (23/11/2017).

Akhirnya tahun 2014, lanjut pria yang kerap disapa Arief ini, ITS juga berhasil membuat prototype hasil pengembangan mesin cetak Braille dari Norwegia tersebut menjadi lebih baik lagi dalam beberapa fiturnya. Ini juga merupakan mesin cetak Braille karya anak bangsa Indonesia yang pertama ada. Karena di Indonesia, sampai saat ini tidak ada perusahaan manufaktur mesin cetak Braille.

"Tahun 2015, ITS berhasil mendistribusikan tiga prototype mesin ini ke SLB di Jayapura, Ambon, dan Pangkal Pinang," paparnya.

Saat ini, kata Arief, ITS telah diamanahi oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dalam Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikdasmen Kemdikbud untuk membuatkan masing-masing satu prototipe dengan bantuan dana Rp 390 juta per mesin. Selain bertugas untuk membuat prototipe, ITS pun memperbaiki mesin dari Norwegia tersebut.

"Prototipe mesin cetak Braille karya tim kami ini telah mencapai TKT 7 (Tingkat Kesiapterapan Teknologi 7), sehingga sudah siap untuk hilirisasi ke industri," ujar mantan Ketua Jurusan Teknik Elektro ITS ini.

Dalam hal ini, Arief menandaskan bahwa mesin ini sudah berskala industri dan siap untuk diproduksi secara massal. Melalui Corporate Social Responsibility (CSR), diharapkan Braille Embossers ini dapat diproduksi dan dipasarkan ke masyarakat. Mesin cetak Braille karya ITS ini dirancang dengan komponen suku cadang 85 persen produk Indonesia.

Sehingga harga diharapkan lebih terjangkau meski tidak untuk ukuran personal, mudah dioperasikan dan dirawat serta kompatibel dengan sistem operasi komputer modern. Ke depan mesin tersebut akan dihibahkan ke SLB-SLB untuk mempermudah pembuatan soal-soal ujian, buku baca sekaligus mendukung gerakan literasi.

Foto: istimewa
"Mesin ini membutuhkan investor, mesin ini tidak akan dimiliki secara personal karena harganya yang relatif mahal jika untuk ukuran personal," ungkapnya.

Mesin Cetak Braille keluaran ke-4 ITS ini, menurut Arief, juga sudah ditunggu-tunggu oleh SLB di Indonesia, sedangkan mesin keluaran ke-5 akan rilis Desember mendatang.

"Ada lima SLB yang sangat membutuhkan mesin ini, dan ada 50 SLB senter yang harus melayani lebih dari 1.000 SLB sekitarnya," tambah dosen kelahiran Surabaya ini.

Pada kesempatan tersebut, Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD meresmikan ujicoba dan juga menjajal mesin cetak Braille tersebut. Hasil cetakan braille itu pun dibacakan langsung oleh beberapa siswa didik SLB YPAB untuk membuktikan keakuratan mesin tersebut.

"Mesin ini dihasilkan oleh anak bangsa dan dapat diperoleh dari dalam negeri, ini merupakan kontribusi yang luar biasa," tutur Joni. Ia mengatakan bahwa ITS harus mampu menjawab persoalan ini. Menurutnya, ITS harus memikirkan apa-apa saja hal yang dapat dilakukan untuk berkontribusi kepada sesama.

Keberadaan Mesin Cetak Braille ini mendukung adanya gerakan literasi untuk para tuna netra. Menurut Kepala SLB YPAB, Drs Eko Purwanto, SLB YPAB ini merupakan sekolah luar biasa dengan siswa terbanyak di Jawa Timur dan satu-satunya SLB untuk tuna netra di Surabaya.

"Siswa SLB YPAB tahun ajaran ini berjumlah sekitar 90 siswa, harapannya Mesin Cetak Braille ini dapat dihibahkan juga di sini (SLB YPAB) nantinya," tuturnya yang disambut gembira oleh para siswa SLB YPAB.
(iwd/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed