Pemuda di Banyuwangi Bersatu Perangi Radikalisme dan Komunisme

Pemuda di Banyuwangi Bersatu Perangi Radikalisme dan Komunisme

Ardian Fanani - detikNews
Kamis, 16 Nov 2017 17:15 WIB
Pemuda di Banyuwangi Bersatu Perangi Radikalisme dan Komunisme
Dialog Kebangsaan dengan tema 'Meneguhkan Rasa Nasionalisme dan Cinta NKRI' (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Ratusan pemuda Kecamatan Pesanggaran dan Siliragung Banyuwangi berkomitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka yang tergabung dalam Lembaga Pemuda Peduli Masyarakat (LPPM) Kecamatan Pesanggaran dan Siliragung ini juga bertekad akan memerangi seluruh musuh negara.

Niatan mulia itu tercetus dalam acara Dialog Kebangsaan dengan tema 'Meneguhkan Rasa Nasionalisme dan Cinta NKRI' yang digelar LPPM di rumah makan Rojo Nogo, Pesanggaran.

Kegiatan ini sebagai upaya menangkal penyebaran paham komunisme, akibat dari demonstrasi berlogo palu arit yang terjadi daerah ini yang sedang dalam proses persidangan.

Untuk lebih memantapkan hati, agenda akbar ini mengundang sejumlah tokoh sebagai pembicara. Yakni Ketua Pemuda Pancasila (PP) Banyuwangi Eko Suryono, Ketua Forum Suara Blambangan (Forsuba) H Abdillah Rafsanjani dan Ketua Forum Peduli Umat Indonesia (FPUI) Kiai Hanan.

"Banyak kepentingan asing yang terus mencoba merongrong bangsa kita," ucap Abdillah Rafsanjani selaku pembicara pertama, Kamis (16/11/2017).

Sesepuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Banyuwangi ini juga mengajak seluruh peserta dialog, untuk mewaspadai dan memerangi tiga musuh negara. Yakni kejahatan teroris, koruptor, dan bahaya laten Komunis atau segala ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Ketua PP Banyuwangi menambahkan, untuk kondisi saat ini, yang paling berbahaya adalah paham komunis. Karena dengan bergulirnya era reformasi yang dibarengi dengan kebebasan berpendapat, paham yang pernah mencoba menggulingkan Pancasila tersebut seperti mendapat angin segar.

"Para penganutnya sudah berani terang-terangan memperkenalkan pahamnya. Bahkan ada yang sampai membuat buku dengan judul yang blak-blak an," kata Eko.

Dan di sesi terakhir, Kiai Hanan selaku saksi kekejaman laten Komunis G30S/PKI, bercerita tentang pengalaman hidupnya. Dia telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekejaman PKI.

"Mereka itu juga biasa berbohong, menipu, memaksa, dan mereka sangat kejam," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua panitia, Mafud Syamsul Hadi, mengaku sengaja menggelar dialog kebangsaan guna membentengi kaum muda dari pengaruh radikalisme dan laten komunis. Sekaligus memperkokoh rasa nasionalisme dan cinta NKRI dichati seluruh generasi muda penerus bangsa.

"Intinya kami mengajak seluruh generasi muda untuk terus berkarya demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia," katanya. (iwd/iwd)
Berita Terkait