Jangan Berlebihan, Ini Bahaya Penggunaan Antibiotik yang Tidak Bijak

Fatichatun Nadhiroh - detikNews
Kamis, 16 Nov 2017 07:46 WIB
Foto: Istimewa
Surabaya - Masyarakat diimbau menggunakan antibiotik secara bijak dan bertanggungjawab. Pasalnya, jika penggunaan antibiotik tidak bijak dan berlebihan, dikhawatirkan bisa menyebabkan terjadinya resistensi atau kebal dari bakteri.

"Masyarakat harus diberi kesadaran dan edukasi jika mengkonsumsi antibiotik tidak bijak, bisa menyebabkan kekebalan pada tubuh. Tubuh pun akan sulit sembuh jika sakit lagi," kata Spesialis Obstetri & Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) RSU dr Soetomo Surabaya, dr Hari Paraton SpOG(K), Kamis (16/11/2017).

Selain itu, pria yang juga sebagai Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kemenkes RI, ini mengaku perlunya masyarakat mengetahui penggunaan antibiotik yang terkendali dengan waktu, dosis dan cara pemberian yang tepat.

"Minumlah antibiotik sesuai dosis yang diresepkan dokter, jangan berlebihan atau jangan pula dikurangi. Dan jangan pula memakai resep lama, periksakan dulu ke dokter," tambahnya.

Dari data WHO, tahun 2014 ada 480.000 kasus baru tuberculosis (TB) karena mikroba di dunia dan 700.000 kematian/tahun akibat bakteri resisten. Diperkirakan jika tidak ada tindakan yang efektif, tahun 2050 resistensi antimikroba (AMR) akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia tiap tahun. Angka tersebut melebihi kematian akibat kanker, yakni 8,2 juta jiwa/tahun.

"Bila sakit pilek, batuk dan diare tidak perlu antibiotik. Yang diperlukan hanya konsumsi makanan bergizi, minum dan istirahat. Tapi jika 3 hari tidak sembuh, segera ke dokter dan jangan malas tanya obat mana saja yang mengandung antibiotik dan manfaatnya," jelasnya.

Untuk itu, jelas dia, pihaknya mendukung penyelenggaraan Pekan Peduli Antibiotik se-Dunia. Dan mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik. Pihaknya pun akan menggandeng Pemprov Jatim, FK Unair untuk turut mengkampanyekan penggunaan antibiotik tidak berlebihan.

"Kemenkes RI juga akan menyasar ke 144 rumah sakit rujukan nasional dan regional serta puskesmas, untuk mengkampanyekan pengendalian penggunaan antibiotik," tegasnya.

Jika dirasa tidak perlu minum antibiotik, lanjut dia, sebaiknya tidak perlu dikonsumsi. Sebab, antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, bukan mencegah atau mengatasi penyakit akibat virus.

"Antibiotik hanya untuk mengobati penyakit yang berasal dari bakteri (mikroba) seperti infeksi saluran kemih, radang tenggorokan. Dan habiskan antibiotik yang diresepkan dokter meski badan sudah sehat. Sebab, jika sakit lagi obat tersebut masih manjur digunakan alias tidak resisten," jelasnya.

Namun yang harus dihadapi dalam penanggulangan resistensi bakteri menjadi tidak mudah. Sebab persoalan ini bukan saja melibatkan pasien atau dokter. Namun juga melibatkan industri farmasi, industri rumah sakit dan kesadaran masyarakat.

"Diperlukan kerjasama semua pihak untuk mengatasi masalah resistensi bakteri ini, terutama keterlibatan pemerintah, pendidikan, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi dan perusahaan farmasi," tandasnya.

Medical Director Pfizer Indonesia, Handoko Santoso mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik. Bahkan pihaknya menjalin kerjasama dengan semua asosiasi kedokteran.

"Kami mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik dengan menjalin kerjasama dengan asosiasi kedokteran dan masyarakat agar penggunaan antibiotik terkendali dengan waktu, dosis dan cara pemberian yang tepat," tambahnya. (fat/fat)