DetikNews
Rabu 15 November 2017, 12:28 WIB

Eksekusi Pembebasan Lahan Tol Ngawi-Kertosono Diwarnai Protes

Sugeng Harianto - detikNews
Eksekusi Pembebasan Lahan Tol Ngawi-Kertosono Diwarnai Protes Pemilik rumah menolak eksekusi/Foto: Sugeng Harianto
Ngawi - Eksekusi pembebasan lahan proyek tol Ngawi-Kertosono, diwarnai protes pemilik rumah. Penghuni rumah di RT 1 RW 6 Dusun Gunting 1 Desa Dempel Kecamatan Geneng, ini menolak dieksekusi lantaran nilai ganti rugi yang diberikan sangat murah.

Salah seorang keluarga pemilik bangunan Kyai Suradi mengaku nilai ganti rugi tanah dan bangunan rumah serta masjid seluas 4.000 meter persegi tersebut Rp 2 miliar. Dengan rincian harga tanah hanya Rp 148 ribu/meter dan harga bangunan rumah Rp 500 juta dan bangunan masjid Rp 400 juta yang disetujui pemerintah.

"Harga segitu mana cukup buat beli tanah dan bangun rumah dan masjid, tidak cukuuuup," teriak Munir (40), menantu Kyai Suradi yang berusaha menolak dievakuasi dari rumahnya, Rabu (15/11/2017).

Munir menuturkan pihak keluarga meminta harga disamakan dengan daerah lain, yakni Rp 1,2 juta/meter.

"Kita minta harga sama dengan daerah lain, Rp 1.200.000 per meter. Ndak cukup uang segitu buat bangun," tegas Munir.

Hal senada juga diungkapkan Mulyadi (45). Menantu Kyai Suraji itu berteriak mengutuk petugas yang akan mengeksekusi rumah dan masjid. "Hai punya hati tidak kalian, semua itu rumah Allah. Kalian pasti akan kena azabnya, tunggu saja," ucap Mulyadi.

Sementara Udin, salah satu anak Kyai Suradi juga dipaksa keluar dari rumah karena menolak eksekusi. "Hai mau apa kalian, lepaskan saya. Saya manusia," teriak Udin.

Sambil berteriak Allahu Akbar, Udin meronta saat dibopong menjauh dari rumahnya oleh anggota kepolisian. "Allahu Akbaaaar," teriaknya dengan nada kencang.

Selain Udin, Sutarsih (50) istri Kyai Suradi yang sakit juga dipaksa keluar rumah bersama anaknya perempuannya bernama Iis (30).

Sementara Djasman, panitera Pengadilan Negeri (PN) Ngawi menuturkan pihaknya sudah melayangkan panggilan untuk mengambil uang ganti rugi. Namun keluarga tidak pernah menghiraukan. Pihak keluarga juga menolak untuk mengosongkan rumahnya.

"Sebenarnya sudah dua kali kita layangkan surat untuk mengosongkan rumah. Namun tidak diindahkan. Karena ini tugas negara, saya harus eksekusi," terang Djasman di lokasi.

Dari pantauan detikcom, rumah dan bangunan masjid berada di tengah proyek jalan tol. Ratusan anggota polisi dan TNI tampak mengamankan proses eksekusi yang dimulai pukul 09.30 WIB. Proyek tol tersebut dikerjakan PT Waskita Karya.
(fat/fat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed