DetikNews
Senin 13 November 2017, 18:54 WIB

Dinas Tanaman Pangan Rahasiakan Bantuan Benih Cabai, Ada Apa?

Muhammad Aminudin - detikNews
Dinas Tanaman Pangan Rahasiakan Bantuan Benih Cabai, Ada Apa? Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan Kabupaten Malang terkesan menutup diri soal kelompok tani penerima bantuan benih cabai rawit dari pemerintah pusat.

Saat dikonfirmasi Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan M Nasri enggan membeberkan siapa saja kelompok penerima bantuan bibit cabai, pupuk, serta alat tanam.

"Sudah lah, jangan tanya soal itu (cabai). Ini masih banyak kegiatan Malang Beach Festival," ujarnya saat dikonfirmasi detikcom, Senin (13/11/2017).

Informasi yang diperoleh detikcom, ada 19 kelompok tani tersebar di sejumlah kecamatan, akan menerima bantuan pengembangan kawasan tanam cabai. Salah satunya, Kelompok Tani Gemah Ripah 01 berada di Ngantang, Kabupaten Malang, selebihnya hingga kini belum diketahui.

Penelusuran detikcom di Dusun Supit Urang, Desa Mbocek, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, yang selama ini dikenal menjadi sentra produksi cabai justru tak pernah menerima bantuan tanam cabai.

Padahal program sudah berjalan dua tahun ini. "Kami tak pernah terima bantuan dari Pemkab Malang. Kelompok kami punya 300 hektar lahan cabai," kata Ketua Kelompok Tani Tri Rejeki, Supriyono ditemui di kediamannya.

Supriyono malah mengungkapkan, kelompok taninya mendapatkan bantuan benih cabai, pupuk dan peralatan tanam dari Provinsi Jawa Timur. "Ini baru datang, bantuan dari Pemprov Jatim untuk cabai besar. Kalau yang dari Pemkab Malang tidak ada, siapa saja yang dapat kami tidak tahu," tuturnya.

Menurut dia, petani cabai tengah berjuang melawan virus Gemini yang menyerang disaat awal tanam. Resikonya, tanaman cabai tidak akan berbuah dan pastinya mengalami gagal panen.

"Petani pusing dengan virus Gemini. Jika penyakit ini menyerang, maka tanaman akan mati," tuturnya.

Belum lagi, kata dia, harga cabai tingkat petani selalu rendah, sehingga tak bisa menutup ongkos produksi. "Kalau produksi bisa sampai 17 hingga 18 ton untuk satu hektarnya," sambungnya.

Khusus kelompok taninya, menggunakan pola tanam tumpangsari. Dalam satu lahan bisa menanam dua jenis cabai yakni rawit dan cabai besar. Cara ini dinilai efektif untuk mendongkrak hasil produksi bagi petani selama musim tanam. "Kami pakai tumpangsari di atas lahan seluas 200 hektar," tegasnya.

Sementara Kelompok Tani Gemah Ripah, Ngantang, baru menerima 3200 tiang ajir dalam setiap hektar lahan tanaman cabe.

Padahal kebutuhan tiang ajir bagi petani idealnya sebanyak 7 ribu hingga 10 ribu batang dalam setiap hektar.

Tiang ajir merupakan alat penegak tanaman cabe yang terbuat dari batang bambu atau tongkat bilahan bambu yang berfungsi sebagai penyangga batang cabe, juga bisa terbuat dari bahan besi.

"Kami sudah menerima ajir, tetapi dari 20 hektare lahan hanya mendapatkan 54 ribu ajir dan 10 ribu ajir berbahan besi," ungkap Ketua Kelompok Tani (Poktan) Gemah Ripah 01, Yugiantoro terpisah.

Menurut dia, idealnya dalam satu hektare membutuhkan sekitar 10 ribu ajir. Apakah ini sesuai dengan rencana distribusi bantuan, dirinya tak bisa menyebut pasti. "Kita kan gak diberi datanya, apa saja dan berapa jumlahnya yang diberikan," tuturnya.

Seperti diketahui, pengadaan fasilitas bantuan untuk mendukung pengembangan cabai rawit senilai Rp 4,3 miliar dimenangkan oleh CV Tri Cahya Suminar beralamatkan di Gang Irawan, Jurugentong, Bantul, Yogyakarta.

Pengadaan ini untuk membantu 120 hektar kawasan cabai di Kabupaten Malang. Dari total bantuan sebanyak 150 hektar, 20 persen berupa atau 30 hektar berupa benih cabai dalam polibex yang diberikan kepada rumah tangga oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Malang.
(bdh/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed