Sensasi Menikmati Mangga Alpukat Langsung Petik Pohon

Muhajir Arifin - detikNews
Senin, 13 Nov 2017 17:04 WIB
Foto: Muhajir Arifin
Pasuruan - Mangga alpukat Pasuruan terus diburu. Kebun-kebun warga di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan pun ramai dikunjungi pembeli.

Para pembeli sengaja datang agar bisa memetik buah mangga alpukat langsung dari pohon. Selain dinikmati di bawah rindang dan angin sepoi, mereka juga membeli untuk dibawa pulang.

Pembeli mangga jenis gadung klonal 21 ini bukan hanya dari Pasuruan, melainkan dari Surabaya, Sidoarjo, Probolinggo hingga Malang.

Salah satu kebun mangga alpukat yang ramai dikunjungi pembeli yakni milik M Sudiono Fauzan, di Dusun Balepanjang, Desa Pandean, Kecamatan Rembang. Setiap hari, puluhan pembeli datang ke kebun milik pria yang juga Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan ini. Bahkan saat akhir pekan, pengunjung bisa lebih banyak.

Salah satu pengunjung asal Peobolinggo, Fatma (52), mengungkapkan ia datang ke kebun untuk mengobati penasaran. Ia mengetahui keistimewaan mangga yang bisa dimakan dengan dengan sendok tersebut dari media online dan media sosial lainnya.

"Baru sekali datang, penasaran saja. Lihat di di youtube bisa langsung di kebun. Rasanya manis dan teksturnya gembur," katanya, Senin (13/11/2017).

Foto: Muhajir Arifin

Fatma yang datang bersama keluarganya mengaku menghabiskan beberapa biji mangga langsung petik pohon. Namun ia juga membeli untuk dibawa pulang.

"Kalau dimakan di kebun gratis. Kalau dibawa pulang nanti ditimbang," ungkapnya.

Harga mangga alpukat langsung dari kebun ini lebih murah dari harga di pasar, antara Rp 20 sampai Rp 30 ribu per kilogram, tergantung ukuran.

Rizky Amelia (25), pembeli dari Kota Pasuruan mengatakan dia sudah sering merasakan nikmatnya mangga alpukat. Namun baru sekali datang langsung ke kebun dan memetik sendiri.

Foto: Muhajir Arifin

"Berkali-kali sudah merasakan, tapi baru kali ini datang langsung ke kebun. Bisa milih sendiri. Senang sih sambil jalan-jalan," katanya.

Pemilik kebun, Sudiono Fauzan, mengatakan pohon mangga alpukat rata-rata pendek sehingga memudahkannya untuk dipetik langsung. Ia sengaja menyediakan banyak gubuk dan tempat cuci tangan untuk warga yang menikmati mangga di kebun.

"Memang keistimewaan mangga ini selain dari rasanya yang sangat manis juga dari cara makan. Teksturnya yang gembur membuatnya bisa dinikmati dengan sendok, seperti alpukat. Itu mengapa disebut mangga alpukat," ungkapnya.

Sudiono juga mempraktikkan cara menikmati mangga dengan memotong di bagian tengah merata, lalu diputar. Setelah itu dikeruk dengan sendok.

Saat ini memang puncak masa panen mangga. Menurut dia, sejak mangga alpukat mulai dikenal luas 4 tahun lalu, para petani mangga merasakan keuntungan besar saat panen.

"Sejak mangga ini dikenal luas karena promosi besar-besaran dari pemerintah daerah, kami petani merasakan dampaknya. Keuntungan meningkat," ujarnya.

Kebun Sudiono memiliki sekitar 1.000 pohon mangga yang sebagian besar mangga alpukat. Dari data Dinas Pertanian, di Kecamatan Rembang terdapat sekitar 4.000 hektar lahan mangga alpukat tersebar di sejumlah desa.

Mangga alpukat atau gadung klonal 21 merupakan varietas yang sudah mulai dikembangkan sejak 1994. Melihat besarnya potensi mangga ini, Pemkab Pasuruan sejak 4 tahun lalu melakukan promosi besar-besaran. Mangga ini mendapatkan paten pada 2016. (bdh/bdh)