DetikNews
Jumat 10 November 2017, 14:27 WIB

Inilah Kadet Soewoko, Pahlawan Kebanggaan Warga Lamongan

Eko Sudjarwo - detikNews
Inilah Kadet Soewoko, Pahlawan Kebanggaan Warga Lamongan Patung Kadet Soewoko berdiri di Jalur Poros Surabaya-Lamongan (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Bagi anda yang biasa melintas di jalur poros Surabaya - Lamongan tentu tak asing lagi dengan sosok yang satu ini. Sosok patungnya berdiri gagah memanggul senjata di tepi jalan poros.

Patungnya yang gagah seakan mengingatkan sosok dan kiprah heroik patung tersebut. Semua orang Lamongan pasti mengenal sosok yang dijadikan monumen tersebut, dialah Kadet Soewoko.

Kadet Soewoko, adalah sosok pahlawan yang kisah heroiknya bisa menginspirasi kaum muda. Soewoko yang kelahiran Desa Lumbangsari, Kecamatan Krebet, Malang pada 1928 ini meninggal pada usia yang muda, 21 tahun. Soewoko gugur saat menjadi komandan regu I seksi I kompi I pasukan tamtama Kodim Lamongan.

Soewoko meninggal pada 9 Maret 1949 ketika pertempuran yang sengit melawan tentara Belanda di wilayah Desa Gumantuk, Kecamatan Sekaran, Lamongan.

Pesan terakhir Kadet Soewoko sebelum meninggalPesan terakhir Kadet Soewoko sebelum meninggal Foto: Eko Sudjarwo
Komandan Kodim 0812 Lamongan Letkol Arh Sukma Yudha Wibawa menuturkan, berdasarkan catatan sejarah Kodim 0812 Lamongan, kisah nyata heroik perjuangan Kadet Soewoko tersebut terjadi pada Minggu, 9 Maret 1949 menjelang siang. Ketika itu, Soewoko mendapat laporan penduduk kalau ada truk tentara Belanda yang mengangkut 12 tentara Belanda terperosok di parit wilayah Desa Parengan, Kecamatan Maduran.

"Anggota regu ada 8 orang tapi hanya memiliki 7 pucuk senjata yang itupun peninggalan Jepang," terangnya.

Dengan bekal persenjataan seadanya itu, lanjut Yudha, regu Kadet Soewoko ini tetap bersepakat akan menyerang tentara Belanda dan meninggalkan 1 anggota, yaitu Soemarto, karena kurangnya senjata. Yudha mengatakan, dengan menggunakan perahu dan lantas merayap ke lokasi pasukan Belanda tersebut, Mereka sepakat akan menyerang dengan tembakan salvo kalau sudah sampai jarak tembak yang tepat.

"Mendekati sasaran tembak, tiba-tiba datang truk berisi penuh serdadu Belanda untuk membantu truk yang terperosok parit itu sehingga kekuatan Belanda menjadi berlipat sekitar 37 orang," terangnya.

Meski kekuatan lawan berlipat dan pasukan regu Soewoko terkepung tetapi mereka tidak gentar dan tetap melakukan serangan gencar. Yudha mengatakan, beberapa serdadu Belanda langsung terjungkal ditembak regu Soewoko tapi mereka terdesak dan berencana mundur tapi tidak bisa dilakukan, karena diam-diam sebagian tentara Belanda mengepung.

Diorama pertempuran Kadet Soewoko di bagian bawah patungDiorama pertempuran Kadet Soewoko di bagian bawah patung (Foto: Eko Sudjarwo)
"Soewoko memutuskan menerobos kepungan musuh menuju Desa Gumantuk Kecamatan Sekaran, 2 orang anggota regu berhasil menerobos kepungan musuh, tapi nahas bagi Soewoko yang tertembak kedua bahunya dan tertangkap," tutur Yudha yang mengisahkan kalau meski tertembak, Soewoko tetap melakukan perlawanan hingga akhirnya meninggal dunia karena ditusuk dan ditembak oleh pasukan Belanda.

Jenazah Soewoko, terang yudha, kemudian dimakamkan oleh warga setempat di desa Gumantuk, Sekaran. Kini, jenazah Kadet Soewoko bersama tiga temannya sudah dipindah ke taman makam pahlawan Kusuma Bangsa Lamongan.

Kisah heroik Kadet Soewoko tersebut kemudian diabadikan dengan dibangunnya patung Kadet Soewoko pada 1975 dan kata-katanya terakhir juga dipahatkan di patung tersebut. Selain diabadikan menjadi monumen di pintu masuk Lamongan, nama Kadet Soewoko juga diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Lamongan.

"Untuk mengenang semangat kepahlawanan kadet Soewoko, tiap tahun di Lamongan juga digelar napak tilas perjalanan kadet soewoko dari Desa Gumantuk ke Patung Kadet Soewoko," papar Yudha.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed