Permodalan Jadi Tantangan Utama UMKM Jatim Hadapi Pasar Global

Rois Jajeli - detikNews
Selasa, 07 Nov 2017 19:05 WIB
Foto: Rois Jajeli
Surabaya - Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) agar dapat bersaing di pasar global. Selain itu, UMKM juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing kapasitas dan kapabilitasnya.

"Selain permodalan, masih banyak kendala yang dihadapi UMKM seperti belum memiliki pasar yang tetap dan berkelanjutan, terutama bagi pasar ekspor," kata Mochammad Rizal, Wakil ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur kepada wartawan usai acara Seminar UMKM BRI 'Membentuk UMKM Indonesia yang kuat guna memenangkan persaingan global' di Hotel Fairfield, Surabaya, Selasa (7/11/2017).

Rizal mengatakan, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan UMKM diantaranya, pemberian fasilitas promosi, produk sehat, sertifikasi produk halal hingga standar nasional Indonesia (SNI). Termasuk kebijakan suku bunga yang ringan bagi permodalan usaha rakyat.

"Sebetulnya kita para pengusaha harus bersyukur, karena ada 22 kementerian yang memiliki program peningkatan bagi UMKM. Jadi, tidak ada jalan lain selain kita harus meningkatkan daya saing kapabilitas dan kapasitas UMKM kita," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Bisnis Ritel dan Briguna BRI WIlayah Surabaya M Misbahul Munir mengatakan, tantangan yang dihadapi para UMKM yang paling utama memang permodalan. Kemudian, masalah sumber daya manusia (SDM), serta riset pasar yang benar.

"Untuk mendapatkan permodalan, UMKM harus memenuhi persyaratan diantaranya, nasabah calon kreditur harus memiliki kegiatan usaha yang menghasilkan, memiliki cashflow-kemampuan untuk membayar, terbuka kepada bank. Juga memiliki catatan yang baik di perbankan," katanya.

BRI sangat mendukung permodalan bagi pengembangan UMKM. Katanya, BRI di Jawa Timur hingga Oktober tahun ini, sudah menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) sekitar 92 persen. Dari jumlah tersebut, sektor perdagangan yang paling banyak mendapatkan KUR sekitar 40 persen. Sedangkan KUR di sektor pertanian sekitar 26 persen.

Untuk Kanwil Surabaya, hingga Oktober Tahun 2017, KUR yang sudah tersalurkan sekitar Rp 3,15 triliun (kredit mikro Rp 2,9 triliun dan kredit ritel Rp 250 miliar). Sedangkan untuk Kanwil Malang, menyalurkan sekitar Rp 5,9 triliun terdiri dari kredit mikro Rp 5,45 triliun dan ritel Rp 476 miliar.

"Kontribusi (KUR) di sekotr perdagangan memang cukup besar, karena memang itu bagian dari program pemerintah menguatkan hilirisasi atau memproduksi produk yang memiliki nilai tambah," terangnya.

Pemimpin Wilayah BRI Surabaya Ebeneser Girsang menerangkan, BRI Wilayah Jawa Timur telah menghimpun dana Rp 83,9 triliun (untuk Kanwil Surabaya Rp 43,1 triliun dan Kanwil Malang Rp 40,7 triliun).

"Kami juga mengelola kredit ke sektor UMKM dengan outstanding Rp 64,3 triliun," jelasnya sambil menambahkan, dari Rp 64,3 triliun itu, tercata di Kanwil Surabaya sebesar Rp 29,8 triliun dan kanwil Malang Rp 34,5 triliun. (roi/bdh)