Istri Mengenang Andi Nursaiful Penghobi Lari Marathon

Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 04 Nov 2017 15:35 WIB
Istri Andi Nursaiful berjilbab biru/Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Andi Nursaiful (48), peserta lari Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 100, meninggal di Ranupane. Istrinya, Dwi Ramastuti mengaku suaminya hobi lari marathon. Tapi dirinya tak menyangka, suaminya meninggal saat menyalurkan hobinya.

"Beliau memang suka marathon, Bandung Ultra 50, Jakarta Marathon kemarin juga ikut," kata Dwi kepada wartawan di RSSA Malang, Sabtu (4/11/2017).

Ibu dua anak ini tak memiliki firasat, menjelang kematian sang suami. Hanya saja perempuan berusia 48 tahun itu, sempat kaget saat mengetahui korban berangkat sendiri untuk mengikuti BTS Ultra 100.

"Tiket beli hanya satu, saya diminta tidak ikut. Kok tiketnya cuman satu? kamu di sini (rumah) saja," ucap Dwi menirukan perbincangan dengan suami sebelum berangkat.

Andi bekerja sebagai wartawan, seperti tertulis dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), biasanya mengajak sang istri ketika melakukan adventure. Maklum, Dwi juga memiliki hobi mendaki gunung dan lari.

"Keduanya sama-sama punya hobi sama, biasa naik gunung dan lari. Tapi kemarin sengaja tidak diajak, karena almarhum hanya membeli satu tiket pesawat," ujar kerabat Dwi yang selalu mendampingi saat proses visum di RSSA Malang.

Rencananya, jenazah Andi langsung dibawa pulang ke rumah duka alamat Perum Cenning Ampe, Sukamaju, Cilodong, Jawa Barat, menggunakan transportasi udara sore ini.

Sementara Yotin Bayu Meriani, dokter berjaga di Pos Ranupane mengatakan, saat dia tiba di lokasi, korban sudah dalam kondisi meninggal.

Jarak pos dengan lokasi hanya sekitar 10 menit. "Saya awalnya dapat laporan dari pelari lain, ada peserta alami sesak napas. Kami datang dengan ambulance, tapi ketika tiba korban sudah meninggal," ujarnya Yotin terpisah.

Yotin menduga korban mengalami henti jatung mendadak yang bisa saja disebabkan karena kolestrol atau gula darah, hingga mengakibatkan aliran darah terhenti.

"Posisi kami di Pos 21 atau Km 21, sebelum pemukiman Ranupane. Sementara korban berada di Km 18. Sumbatan kolesterol atau gula darah bisa saja menjadi penyebab henti jantung mendadak," terangnya.

Rute lokasi kematian Andi, merupakan jalan setapak berbatu. Jalur track yang harus dilalui oleh peserta Ultra 70 yang diikuti korban.

"Korban memiliki pengalaman sebagai peserta lari ultra atau marathon. Jadi ini bukan yang pertama, pos terakhir yang dilalui adalah Bantengan, kemungkinan besar korban belum mengalami tanda-tanda kolaps hingga melaluinya begitu saja," bebernya.

Yotin merupakan salah satu tim medis yang disiagakan dalam BTS Ultra 100. Tim Forensik Polres Malang Kota melakukan identifikasi jasad korban, ditemukan luka lecet di bagian dahi yang diduga akibat korban terjatuh. Setelah mengalami serangan jantung saat berlari menyelesaikan rute yang diikuti. (fat/fat)