Menengok Kampung Ilmu yang Bertahan di Era Teknologi

Grasella Sovia Mingkid - detikNews
Sabtu, 04 Nov 2017 08:08 WIB
Kampung Ilmu di Surabaya/Foto: Gracella Sovia Mingkid
Surabaya - Buku adalah guru yang setia setiap saat dalam memberikan ilmu dan pengetahuan. Meski generasi saat ini diterpa teknologi, keberadaan buku fisik dari kertas masih menjadi incaran banyak orang.

Bagi pecinta buku di Surabaya, Kampung Ilmu mungkin sudah tidak asing lagi. Area yang digadang-gadang sebagai Pasar Loak buku terlengkap di Surabaya ini masih diminati para pemburu buku.

Nurdiana (22), salah satunya. Mahasiswa hukum Universitas Wijaya Putra ini sedang mencari buku-buku perkuliahan. Menurutnya, hal tersebut sudah ia lakukan sejak SMA.

"Sudah lama saya berburu buku di sini. Dari pada beli di toko buku, ya mending disini lebih murah. yang penting isinya sama," kata Nurdiana kepada detikcom, Sabtu (4/11/2017).

Nurdiana mengaku, sejak SMA, dia pasti mencari buku-buku incarannya di Kampung Ilmu terlebih dahulu. "Pasti kesini dulu, kalau tidak ada ya kadang nunggu beberapa hari selama tidak mepet. Kalau benar-benar tidak ada baru ke toko buku," tambah perempuan pecinta novel ini.

Sama halnya dengan Sulastri (39). Ia lebih senang membeli buku kebutuhan sekolah sang anak di kampung Ilmu.

Kampung Ilmu di Surabaya/Kampung Ilmu di Surabaya/ Foto: Gracella Sovia Mingkid


"Di sini lebih murah, jadi kan bisa menghemat juga. Lagi pula di sini juga lengkap," ujarnya saat menemani sang anak mencari buku mata pelajaran Matematika SD kelas 4.

Kampung ilmu memang menjadi surga para pecinta buku. Dari pantauan detikcom, beberapa pengunjung bahkan duduk diam di pendopo atau di kursi depan toko buku untuk sekadar membaca. Hal ini menjadi pemandangan yang tidak asing lagi di area Kampung Ilmu.

Namun, harus diakui kondisi saat ini tidak sama dengan beberapa tahun lalu. Cindy (26), salah seorang penjual buku mengaku ada penurunan omset dalam dua tahun terakhir.

"Kalau sebelumnya sehari bisa dapat Rp 500-Rp 600 ribu, sekarang di hari biasa dapatnya Rp 100-Rp 300 ribu saja," ujarnya.

Cindy yang telah menjual buku selama 9tahun itu mengatakan, beberapa faktor mungkin karena semakin banyak penjual kaki lima di luar Kampung Ilmu, mulai tumbuh. Selain itu, mungkin juga karena masyarakat lebih suka membaca secara online.

"Mungkin juga karena sudah banyak online, jadi lebih sepi pengunjung," ujarnya.

Kampung Ilmu di Surabaya/Kampung Ilmu di Surabaya/ Foto: Gracella Sovia Mingkid


Hal senada juga disampaikan oleh Triono (53). Ia merasa, pengunjung jauh menurun saat ini. "Sekarang media cetak saja sudah banyak yang gulung tikar. Orang-orang sekarang saja sudah jarang mau baca majalah, lebih suka baca informasi di online," tambahnya.

Budi, Ketua Paguyuban Pedagang Buku di Kampung Ilmu mengatakan, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi komunitasnya dan pemerintah.

"Ini memang jadi tantangan, bagaimana menumbuhkan kembali minta baca, sehingga generasi sekarang tidak terlena dengan teknologi semata," ujarnya.

Untuk itu, komunitas kampung Ilmu tak henti-hentinya melakukan kampanye. "Kami terus menghadirkan hal-hal menarik di sini. Ada bimbingan belajar gratis hingga pertunjukan-pertujukan tradisional yang dapat menghibur pengunjung," ujarnya.

Selain itu, para pedagang yang terbagi dalam 84 stand juga terus mengembangan kelengkapan bukunya. "Sehingga orang datang ke sini senang karena buku yang dicari ada dan harganya murah," pungkasnya. (fat/fat)