DetikNews
Kamis 02 November 2017, 19:28 WIB

98 KM Pantai di Trenggalek Rawan Abrasi, BNPB Gelar Sekolah Laut

Adhar Muttaqin - detikNews
98 KM Pantai di Trenggalek Rawan Abrasi, BNPB Gelar Sekolah Laut Foto: Adhar Muttaqin
Trenggalek - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar sekolah laut untuk seribu relawan di Kabupaten Trenggalek. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman abrasi di pesisir selatan.

Kasubdit Pencegahan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana, BNPB, Gita Yulianti Suwandi, mengatakan, potensi abrasi maupun tsunami di kawasan pesisir selatan Trenggalek cukup tinggi, sehingga pemahaman, pengetahun serta kesiapsiagaan warga maupun relawan mengenai potensi bencana tersebut perlu ditingkatkan.

"Sekolah laut ini adalah tahap awal, saat ini BNPB hanya menggelar sekolah di 11 kabupateb/kota di Indonesia, salah satunya Trenggalek. Kenapa kami memilih Trenggalek, karena di sini komitmen kepala daerah sangat kuat dan kesiapan pemerintahnya juga cukup baik," kata Gita Yulianti Suwandi, Kamis (11/2/2017).

Menurutnya, dalam sekolah laut tersebut terdiri dari tujuh tahapan, mulai dari materi pengenalan dan pengetahun tentang risiko bencana di pesisir pantai, serta berbagai cara yang harus dilakukan oleh warga maupun instansi terkait.

Selain itu, seluruh relawan dan masyarakat diajak untuk melakukan aksi nyata dengan mengelar penanaman mangrove di kawasan pancer Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo.

"Kami sebetulnya ingin membangun dan monitor sejauh mana kesiapan daerah dalam menghadapi bencana, khususnya terhadap aktivitas pengurangan bencana. Menanam mangrove merupakan salah satu kegiatan adaptasi untuk memelihara ekosistem yang berkaitan dengan laut," ujarnya.

Gita menambahkan, dengan sekolah laut tersebut muncul kesadaran dari masyarakat maupun relawan kebencanaan di seluruh wilayah Trenggalek untuk bergotong-royong melakukan gerakan pengurangan risiko bencana.

"Kita membangkitkan kembali semangat gotong royong di masyarakat, khususnya bagi yang tinggal di sekitar laut, sehingga begitu terjadi bencana akibat dari perubahan iklim masyarakat sudah siap, pemerintah pun juga sudah siap," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek, Joko Rusianto menjelaskan, sebelum apel besar ralawan bencana dan penanaman empat ribu mangrove, pihaknya telah menggelar sosialisasi bersama yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pelajar, relawan, warga hingga sejumlah instansi terkait.

"Materi yang disampaikan seputar risiko bencana di pesisir selatan Trenggalek ini, karena seperti kita ketahui, Trenggalek ini memiliki garis pantai sepanjang 98 kilometer dan hampir seluruhnya ini rawan akan bencana abrasi maupun tsunami," ujarnya.

Dalam rangkaian sekolah laut itu, pihaknya juga menggerakkan seribu relawan untuk melakukan aksi pungut sampah bersama di kawasan Pantai Cengkrong. Dengan berbagai aksi itu diharapkan kawasan pesisir selatan Trenggalek menjadi lebih bersih dan asri. Selain itu juga dapat meminimalisir risiko bencana.
(bdh/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed