Mukhlis Paeni, Ketua Komisi 3 LSF mengatakan, saat ini seiring kemajuan zaman dan teknologi, memproduksi film dan membuat konten tayangan merupakan suatu hal yang sangat mudah. Mudah juga untuk menayangkannya sekaligus menayangkannya.
Tak hanya melalui media mainstream, namun bisa juga juga melalui sosial media. Kemudahan memproduksi dan mendistribusikan film inilah yang menjadi salah satu kendala LSF tidak selalu bisa melakukan penyensoran film. Untuk itulah pentingnya sensor mandiri (self censorship).
"Masyarakat akan melakukan penyeleksian sensor sendiri terkait tayangan atau konten. Keluarga diharapkan berperan menyeleksi tayangan mana yang layak ata patut untuk anak dan keluarganya," ucap Mukhlis kepada detikcom seusai sosialisasi kepada LSM, Akademisi, pihak rumah produksi, Seniman, media lokal dan penggiat kesenian, Selasa,(31/10/2017).
Mukhlis mengatakan, pemerintah daerah juga harus berperan aktif dalam menyikapi konten tayangan film, selain mengawasi bahaya pengaruh negatif film.
Pemerintah daerah juga harus merangsang pihak di daerah untuk terus memproduksi muatan lokal, film indie pelajar, mahasiswa, karya rumah produksi dan media lokal untuk dikenalkan ke dunia luar dengan memperhatikan batasan sesuai aturan LSF.
"Sangat penting pemerintah daerah mendorong dan memberi rangsangan kepada sineas lokal, pelajar-mahasiswa dan media lokal terkait budaya lokal yang kaya nilai budaya dan penting bagi membentuk budi pekerti generasi bangsa," tegas Mukhlis.
Kota Kediri merupakan 10 bagian kota/kabupaten dari 39 kota/kabupaten di Jawa Timur yang dipilih menjadi lokasi sosialisasi pentingnya sensor mandiri. (iwd/iwd)











































