DetikNews
Selasa 17 Oktober 2017, 15:13 WIB

Ini Curhat Penjual Koran di Surabaya Soal Lilitan Utang Rentenir

Grasella Sofia Mingkid - detikNews
Ini Curhat Penjual Koran di Surabaya Soal Lilitan Utang Rentenir Wilem Jesen Pitoy saat berjualan koran di Jalan Indragiri (Foto: Grasella Sofia Mingkid)
Surabaya - Curhat yang disampaikan Wilem Jesen Pitoy adalah semakin tidak lakunya koran yang dijualnya. Selain itu, Wilem juga curhat tentang lilitan utangnya kepada rentenir yang mencapai puluhan juta rupiah.

"Dulu sehari bisa laku 100 eksemplar. Sekarang paling 30-40 koran," ujar Wilem saat ditemui detikcom di perempatan traffic light di Jalan Indragiri, Selasa (17/10/2017).



Tentang lilitan utang rentenir, Wilem menceritakan bahwa semuanya berawal saat sang istri, Herwani, mengalami sakit ginjal. Sakit itu diderita istrinya sejak 2012. Sejak itu, Wilem rajin melakukan kontrol ke Rumah Sakit Haji Sukolilo.

Saat itu beban biaya berobat tak menjadi masalah karena sudah ditanggung BPJS. Bahkan operasi di RS Haji juga ditanggung BPJS. Tapi pada 16 Mei 2016 lalu, Herwani terpaksa dibawa ke RS RKZ karena kondisinya yang sudah parah.

"Waktu itu istri muntah-muntah dan RKZ adalah rumah sakit yang terdekat dari rumah. Saya tidak ingin istri saya meninggal, jadi mau tidak mau harus dioperasi, meski biaya sangat mahal," jelas bapak lima anak ini.

Di RS RKZ, Herwani dioperasi. Saat itu Wilem masih berpikir bahwa semuanya akan ditanggung BPJS. Namun perkiraan Wilem keliru. BPJS yang dimiliki Wilem ternyata tak berlaku di RS RKZ. Padahal operasi menghabiskan biaya Rp 55 juta.

Wilem pun bingung, hendak dicari ke mana uang sebanyak itu. Saat sedang kalut itulah, Wilem dengan terpaksa meminjam uang ke sejumlah rentenir. Yang terpikir di benak Wilem saat itu adalah bagaimana uang operasi bisa terbayar lunas. Biaya operasi memang terbayar lunas, tetapi Wilem tak sadar dengan konsekuensinya berutang ke rentenir.

Dalam surat curhat yang dibuatnya, Wilem mengatakan bahwa ia telah meminjam uang sebanyak Rp 10 juta dengan bunga RP 2 juta perbulan. Ia juga meminjam Rp 4 juta yang membengkak menjadi Rp 18 juta sehingga ia harus membayar Rp 150 ribu sehari selama 120 hari. Ia juga meminjam RP 4,5 juta yang ia harus membayar setiap harinya Rp 160 ribu.

"Bayangkan, dari Rp 4 juta jadi Rp 18 juta," keluh Wilem.

Wilem bercerita, sebelum berjualan koran, ia bekerja sebagai sopir truk kontainer. Pekerjaan sebagai sopir sudah ia jalani sejak tahun 1991. Namun kecelakaan di Tol Tandes pada 2008 memaksanya pensiun jadi sopir.

Kecelakaan itu juga memuat kakinya tak mampu lagi berjalan. Untuk bergerak, ia harus dibantu oleh dua buah kruk. Sejak 2009, Wilem memutuskan berjualan koran.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed