detikNews
Senin 16 Oktober 2017, 09:49 WIB

Ini Metode Tangani Bedah Tumor Lewat Alis Mata Minim Risiko

Grasella Sovia Mingkid - detikNews
Ini Metode Tangani Bedah Tumor Lewat Alis Mata Minim Risiko Foto: Istimewa
Surabaya - Ny Amelia Genial asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengeluh pandangan mata sebelah kirinya tidak nyaman. Ia merasa seperti ada yang mengganjal di kelopak matanya. Wanita usia 50 tahun ini merasakan ketidaknyamanan itu kurang lebih 4 tahun silam. Saat melihat, pandangannya tertutup bayang-bayang.

"Tidak terasa sakit, tapi tidak nyaman saja rasanya. Semula saya abaikan saja. Tapi kok ini berangsung bertahun-tahun," kata Ny Amelia, Senin (16/10/2017).

Karena gangguan ini makin lama makin parah, jelas Ny Amelia, dirinya mendatangi spesialis mata di Surabaya. Dia pun disarankan melakukan MRI. Dari MRI itulah diketahui jika di pangkal saraf mata yang ada di pangkal tengkoraknya, tumbuh tumor cukup besar.

"Kata dokter tumor itu harus dioperasi. Jika tidak, saya akan buta karena tumor sudah mulai menjalar ke pangkal saraf mata kanan. Tapi saya takut kalau operasi akan berdarah-darah dan berpengaruh ke organ yang lain. Tapi dokter menenangkan saya," tambahnya.

Ahli bedah saraf tim medis Comprehensive Brain and Spine Centre (CBSC) Indonesia, dr Agus C. Anab SpBS mengatakan, keresahan pasien agar dalam operasi tidak berdarah-darah hingga risiko lain dalam operasi, kini ada teknik taua metode baru. Yakni minimal invasive surgery dan metode keyhole atau operasi melalui alis mata.

"Kini dengan mode minimal invasive surgery dan metode keyhole, tumor otak dapat diatasi dengan operasi melalui alis mata. Selain tidak meninggalkan bekas luka operasi yang panjang, metode ini juga lebih aman dan tidak menakutkan bagi pasien," kata pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Dia mengaku teknik keyhole surgery supra orbital approach atau operasi dengan lubang kecil sebesar 1-2 cm pada alis mata ini ditemukan oleh profesor bedah saraf dari Jerman bernama Axel Perneczky pada tahun 1999. Teknologi ini terus berkembang, khususnya di Eropa hingga saat ini.

Seminar Bedah Tumor Otak di Surabaya/Seminar Bedah Tumor Otak di Surabaya/ Foto: Istimewa


Di Asia, terutama Indonesia, metode ini dipionirkan dari tim medis CBSC yang berpusat di Surabaya. Pada tahun 2008, dr Aca ini pernah belajar langsung ke Axel Perneczky, sang penemu metode ini saat workshop di Singapura. Usai mengikuti workshop, ia memperdalam lagi dengan magang pada Profesor Nicolay Hofp, seorang ahli bedah saraf anak didik Axel di Stutgart Jerman tahun 2012. Hingga kini, dr Aca melakukan operasi sesuai dengan metode dari penemunya tersebut.

Dokter Aca menjelaskan, teknik ini memiliki banyak kelebihan dibanding cara-cara konvensional. Pasien mendapat banyak keuntungan. Yakni, luka sayatan kecil sehingga proses penyembuhannya sangat cepat, risiko infeksi kecil, perdarahan minimal, secara kosmetik lebih bagus karena bekas sayatan tersamar dengan alis mata.

"Tentu yang paling utama ketika melakukan operasi tidak menyentuh atau merusak bagian otak yang lain," tegasnya.

Untuk mencapai tumor yang ada di balik otak, maka otak terlebih dahulu harus dikempiskan dengan cara mengeluarkan cairannya. Kemudian otak disibak melalui gerakan sangat halus. Dengan cara ini tumor akan terlihat.

"Untuk operasi semacam ini, tidak bisa dilakukan dengan mata telanjang tetapi menggunakan mikroskop khusus, sehingga bisa melihat secara jelas sampai titik objek terdalam," katanya.

Untuk mengambil gumpalan tumor itu, tambah dia, tidak bisa diangkat secara langsung. Tapi harus diambil sedikit demi sedikit dan tidak boleh menyentuh bagian yang lain. Oleh karena itu proses operasinya memakan waktu rata-rata 5-6 jam. Selain itu, sang dokter bedah sebagai operatornya harus memiliki keterampilan yang mumpuni pula.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com