Ironisnya, mereka baru mengetahui terinfeksi HIV/AIDS setelah diperiksa tim medis mobile visitor Dinkes Kabupaten Blitar yang bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).
"Kami rutin keliling dengan mobile visitor ke lokasi yang resistensinya tinggi pada penyebaran penyakit HIV/AIDS. Seperti ke sekitar bekas lokalisasi, para wanita pekerja seks, waria dan komunitas LGBT. Dari situ kami menemukan banyak penderita HIV/AIDS baru. Dan 51 persen mereka baru tahu terkena HIV/AIDS setelah kami periksa," jelas Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Krisna Yekti ditemui di kantornya, Jalan Semeru, Sabtu (14/10/2017).
Fakta ini, mempunyai korelasi dengan berubahnya golongan penderitanya. Jika pada tahun sebelumnya, tambah Krisna, penderita HIV/AIDS lebih banyak kaum laki-laki. Namun di tahun ini lebih didominasi para wanita dengan status ibu rumah tangga. Apakah mereka tertular suaminya yang suka jajan di luar ?
"Bisa jadi seperti itu. Karena tahun 2017 ini ada 68 penderita baru yang terinfeksi. Yang 47 wanita, sisanya sebanyak 21 adalah pria Didominasi wanita dengan jumlah terbanyak 25% merupakan ibu rumah tangga. 22% Pekerja swasta. Lalu 16% buruh pasar dan 9% lain-lain," paparnya.
Menurut Krisna, penutupan lokalisasi kemungkinan menjadi faktor penyebab penularan HIV/AIDS semakin tidak terkontrol. "Ditutupnya lokalisasi itu membuat para penjaja seks beroperasi di semua tempat. Bahkan mereka juga ada di sekitar kita. Dan beroperasinya tidak hanya malam hari, namun juga siang hari," papar wanita berkaca mata itu.
Jika dilihat usai penderita HIV/AIDS yang baru terdeteksi tahun ini, rata-rata usia produktif. Dinkes Kabupaten Blitar mencatat, penderita di rentang usia 25-34 tahun sebanyak 25 orang, usia 35-44 tahun sebanyak 22 orang. Sementara di usia 15-24 tahun sebanyak 9 orang, di atas 45 tahun hanya satu orang. Dari data itu juga tercatat , ada satu balita yang positif terinfeksi HIV/AIDS.
"Dari kasus adanya balita yang terinfeksi itu, maka mulai tahun ini kami periksa semua ibu hamil. Pemeriksaan ini terkait apakah janin yang dikandungnya terpapar HIV/AIDS atau tidak. Lalu juga diperiksa apakah terinfeksi sipilis dan hepatitisnya atau tidak," kata Krisna.
Penanganan bagi ibu hamil yang positif terinfeksi HIV/AIDS, akan dimonitor sampai melahirkan. "Setelah bayi berumur satu tahun, akan kami periksa apakah positif terinfeksi HIV Aids juga. Jika memang positif, maka sejak umur dua tahun harus rutin kami beri ARV," terangnya.
Sementara Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV. Obat-obatan ini tidak membunuh virus, tapi memperlambat pertumbuhan virus. HIV bisa mudah beradaptasi dan kebal terhadap satu golongan ARV. Oleh karena itu, kombinasi golongan ARV akan diberikan pada penderita.
Pemberian ARV bagi penderita yang baru terdeteksi, juga diberikan gratis seumur hidupnya. ARV ini bisa didapatkan di rumah sakit rujukan.
"Kalau di Blitar bisa mendapatkan di RSU Ngudi Waluyo Wlingi atau di RSU Mardi Waluyo Kota Blitar, gratis seumur hidup," pungkasnya. (fat/fat)











































