Ini Lho Krupuk Berbahan Dasar Kopi Warga Lamongan, Penasaran?

Ini Lho Krupuk Berbahan Dasar Kopi Warga Lamongan, Penasaran?

Eko Sudjarwo - detikNews
Senin, 02 Okt 2017 08:19 WIB
Ini Lho Krupuk Berbahan Dasar Kopi Warga Lamongan, Penasaran?
Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Siapa sangka kopi yang banyak dikenal sebagai produk perkebunan yang biasanya diolah menjadi seduhan minuman lezat, bisa dikonsumsi dengan cara berbeda.

Seorang warga Lamongan menciptakan kreasi baru, berupa krupuk berbahan dasar bubuk kopi. Di tangan Sri wahyuni, warga Desa/Kecamatan Kedungpring, kopi kini disulap menjadi krupuk yang sangat lezat dan digemari semua kalangan.

"Inovasi kita membuat krupuk dari kopi, kita ada pengalaman di Malaysia, jadi ada salah satu negara yang membutuhkan krupuk. Jadi kita bikin aneka krupuk ubi-ubian dan dari biji-bijian termasuk kopi," kata Yuni, pemilik CV Lembah Hijau kepada detikcom di rumahnya, Senin (2/10/2017).

Kopi di tangan warga Lamongan jadi makanan/Kopi di tangan warga Lamongan jadi makanan/ Foto: Eko Sudjarwo


Berawal dari potensi dan permintaan pasar akan produk krupuk berbahan biji-bijian, dirinya memanfaatkan dengan membuat inovasi terhadap biji kopi untuk diubah menjadi krupuk yang bernilai ekonomi tinggi.

"Ide kita buat krupuk kopi karena di sini belum ada yang bikin, karena permintaan cafe-cafe gitu mesti ngopi, kalau ngopi ada angkringannya pasti ada krupuk kopinya," tambahnya.

Yuni mengaku untuk mengolah hasil inovasi kopi sebagai bahan dasar krupuk, tidak membutuhkan proses yang rumit. Menurutnya, proses pembuatannya tak ubahnya seperti membuat krupuk pada umumnya.

Krupuk kopi itu dibungkus dan dikirim ke luar pulau/Krupuk kopi itu dibungkus dan dikirim ke luar pulau/ Foto: Eko Sudjarwo


"Pembuatannya, dengan bahan tepung tapioka, bubuk kopi, tepung kentang dan bumbu lainnya. Semuanya, bumbu dimasukkan, digiling, diuleni sampai kalis, kemudian d kukus, didiamkan semalam diiris, dijemur baru digoreng," jelansya.

Namun, untuk 'kekentalan' rasa kopinya, sambung Yuni disesuaikan dengan permintaan pasar. Sebab, masing-masing pemesan memiliki selera yang berbeda. "Kita inovasi berdasarkan pasar tiga pulau yang kita kirim. Berdasarkan taste kopinya, jadi tiap pulau rasanya tidak sama. Ada yang minta rasa pahit kita tambah kopinya lebih banyak, juga ada yang sedang," tuturnya.

Ibu tiga anak ini menuturkan, sejumlah pasar yang menjadi peminat krupuk kopi ini tersebar di tiga kota di Indonesia. "Sementara ini saya pasarkan ke Maluku, Palangkaraya dan di Padang," tandasnya.

Kreasi krupuk terbuat dari kopi mendapat penghargaan/Kreasi krupuk terbuat dari kopi mendapat penghargaan/ Foto: Eko Sudjarwo


Bertepatan dengan Hari Kopi se-dunia 1 Oktober 2017 ini, produk krupuk kopi akan dilaunching di berbagai ritel modern. Saat ditanya harga, Yuni menuturkan per 200 gram dijual dengan harga Rp 15 ribu dan siap disantap sendiri atau bersama-sama.

"Bulan Oktober ini launching masuk ke retail di Jawa Timur dan beberapa cafe di Surabaya," ucapnya.

Bahkan hasil eksperimen ini juga dijadwalkan akan dipamerkan di Malaysia pada November 2017 mendatang. "Kita akan bawa, kita sudah packing, permintaan di sana sudah banyak. Kebetulan yang minta Datuk-datuk yang punya cafe-cafe itu yang kita masukin," tuturnya

Sementara hasil inovasi membuat krupuk kopi ini dirinya mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim dan mampu mendulang jutaan rupiah setiap bulan. "Kapasitas produksi kita itu, 3 sak tepung tapioka atau 75 kg tepung per harinya," tambahnya. (fat/fat)
Berita Terkait