Bingung Bantu Korban Serangan Jantung, Ini Langkahnya

Grasella Sovia Mingkid - detikNews
Senin, 02 Okt 2017 07:35 WIB
Foto: Gracella Sovia Mingkid
Surabaya - Serangan jantung hingga menyebabkan kematian bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Pertologan pertama bagi korban sangat dibutuhkan. Namun pada umumnya, orang awam tidak banyak mengetahui cara memberikan pertolongan pertama. Bagaimana caranya?

Dr Liliek Murtiningsih, SpJP, instruktur nasional pelatihan dasar dan tingkat lanjut pertolongan pada jantung dan pembuluh darah menjelaskan langkah-langkahnya.

"Pertama yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa orang tersebut betul tidak sadar. Kalau ia masih bisa melihat dan bersuara, mungkin saja jantungnya tidak apa-apa, hanya tekanan darahnya saja yang bermasalah," kata dr Liliek kepada detikcom, Senin (2/10/2017).

Tidak sadarkan diri merupakan ciri bila jantung berhenti. Hal ini bisa dilihat dari gerak dada. Apabila jantung berhenti, nafas juga otomatis berhenti karena tidak ada darah yang dipompa dari jantung.

Selanjutnya, hal yang perlu segera dilakukan adalah merangsang telinga korban dengan terus memanggil dan menepuk bagian pundak. "Panggil pak, bu, sambil terus menepuk pundak atau mencubit. Kita lihat ada jawabannya atau tidak. Apakah dia melek atau bersuara. Kalau tidak ada respon berarti bisa dipastikan jantung berhenti mendadak," tambah dr Liliek.

Dia menambahkan, jika tak ada respon, upaya pertama yang harus dilakukan adalah berteriak minta tolong. "Teriak minta tolong, jangan melakukan hal yang lain dulu. Kalau kita sendirian, langsung lari ke telepon dan hubungi nomor call center, seperti 112 (Surabaya) dan nomor lain sesuai daerah," ujarnya.

Menurut Liliek sangat penting bagi masyarakat awam mengetahui nomor-nomor call centre yang siap 24 jam, agar bisa mendapatkan bantuan sesegera mungkin.

"Jangan lama-lama saat menelepon 1-2 menit saja, sampaikan maksud dengan jelas, beritahu nama, alamat dan keluhan bahwa ada orang tidak sadarkan diri. Terlambat satu menit saja, angka kematian bisa menjadi 10 persen, 2 menit, 20 persen dan seterusnya," tambahnya.

Jika telah selesai menghubungi call centre, tindakan utama yang perlu dilakukan adalah pijat jantung atau kompresi. Untuk itu, kedua tangan diletakkan lurus di pangkal jantung (tengah dada), tumpukkan berat tubuh pemijat di atas badan korban, agar menjadi tenaga yang memijat jantung.

"Kita perlu menggenjot jantung sebanyak 30 kali dengan kedalaman minimal 5 cm. Pijat jantung harus dilakukan dengan benar dan tak berhenti, kecuali kalau kita mau memberikan nafas buatan. Misalkan korban adalah keluarga kita sendiri, kita bisa lakukan itu melalui mulut atau hidung korban. Jika melalui mulut, maka hidung korban harus ditutup. Begitu pula sebaliknya. Setelah 30 kali memijat, kita bisa hembuskan 2 kali nafas buatan," tambahnya panjang lebar.

Namun dia mengingatkan saat menghembuskan nafas, jangan terburu-buru dan emosional. Penolong perlu mengambil nafas sendiri lalu menghembuskan dengan pelan. Hal ini dilakukan dua kali, lalu kemudian kembali melanjutkan pijat jantung lagi.

"Setiap 30 kali memijat, silakan berikan nafas buatan, " tambahnya.

Jika tak ingin memberikan nafas buatan, Liliek mengimbau untuk melakukan pijat jantung dengan benar. "Pijat jantung yang benar dilakukan 100-120 kali dalam semenit dengan dalamnya genjotan mencapai 5 cm, tidak boleh berhenti. Karena itu, kita tidak bisa melakukannya sendiri, perlu ada orang lain. Itulah kenapa penting berteriak minta tolong di awal, apalagi jika berada di tempat umum seperti mall, taman, dan lain-lain," pungkasnya.

Menurutnya, seseorang hanya akan efektif memberikan pijatan selama 2 menit. Lebih dari itu orang tersebut akan lelah. Karena itu penolong harus bergantian setiap dua menit. Hal ini terus dilakukan sampai orang tersebut memberikan respon sadar. (fat/fat)