DetikNews
Selasa 26 September 2017, 16:19 WIB

Pecah Tangis Haru saat Anak yang Gugat Ibu Kandung Saling Ketemu

Andhika Dwi Saputra - detikNews
Pecah Tangis Haru saat Anak yang Gugat Ibu Kandung Saling Ketemu Sumiati memeluk Lalan Suwanto, anak yang menggugatnya (Foto: Andhika Dwi Saputra)
Kediri - Meski tak didengar kesaksiannya, namun Sumiati dan Lalan Suwanto hadir dalam sidang gugatan yang melibatkan mereka. Ketika sidang usai mereka pun bertemu.

Tangis haru langsung pecah saat ibu dan anak itu bertemu di halaman Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri. Mereka saling berpelukan sambil bertangisan.

Sumiati tak menyangka akan bertemu dengan Lalan Suwanto, anak ketiga dari lima bersaudara yang melakukan gugatan terhadap dirinya dan anak bungsunya Enik Murtini. Sumiati yang mengenakan baju coklat motif bunga dengan kerudung batik tak kuasa menahan air mata sembari memeluk Lalan.

Selaku tergugat, Sumiati mengaku bersalah karena telah meminjamkan sertifikat rumah warisan tanpa ada musyawarah dengan seluruh anaknya. Sehingga rumah dan tanahnya terpaksa harus berpindah tangan dan berakhir di meja hijau.

"Maafin ibu ya nak, semoga ini yang terakhir. Semua karena salahnya Ibu, nggak ngerti akan berakhir seperti ini," ucap Sumiati sambil memeluk Lalan, Selasa (26/09/2017).

Lalan selaku penggugat juga menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang telah dilakukannya. "Ibu saya minta maaf, ini saya lakukan hanya untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak kita," kata Lalan dengan mata berkaca-kaca.

Mereka saling bermaafanMereka saling bermaafan (Foto: Andhika Dwi Saputra)
Kendati keduanya hadir dalam agenda sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan kesaksian, namun mereka hanya sekedar melihat jalannya sidang.

Usai sidang pihak tergugat Enik Murtini, Sumiati (Ibu) dan Lalan Suwanto (penggugat) keduanya meninggalkan sidang sembari menunggu agenda sidang selanjutnya yang digelar pada 6 Oktober 2017 mendatang.

Kasus ini berawal pada Mei 2013, Sumiati dan anak bungsunya, Enik Murtini berniat menggadaikan sertifikat rumah karena membutuhkan modal segar untuk usaha. Rumah itu sendiri merupakan peninggalan alias warisan dari suami Sumiati yang sudah almarhum. Mereka meminta bantuan seseorang bernama Bambang untuk menggadaikan sertifikat itu.

Yang tak diketahui Sumiati dan Enik, ternyata Bambang membawa sertifikat itu ke sebuah bank di Kecamatan Gringging, Kabupaten Kediri untuk mengajukan pinjaman. Padahal Sumiati dan Enik meminta agar sertifikat digadaikan ke individu atau orang lain. Dana segar cair senilai Rp 120 juta. Enik mendapat Rp 70 juta sementara Bambang meminta Rp 50 juta.
Mereka saling bertangisanMereka saling bertangisan (Foto: Andhika Dwi Saputra)

Dalam perjalanannya, ternyata utang itu belum terbayar lunas di saat jatuh tempo. Saat itulah Bambang mengatakan yang sejujurnya. Tetapi sudah terlambat. Bank mengeksekusi rumah itu dan melelangnya. Kini rumah warisan itu dimiliki oleh Dwi Bianto, warga Surabaya.

Mengetahui hal itu, Emmy dan Lalan akhirnya mengajukan gugatan. Gugatan ditujukan kepada ibunya sendiri, Sumiati dan pihak lain yakni adiknya, Enik Murtini dan dua saudaranya yang lain yakni Pujiono dan Hadi Suwandi. Turut tergugat juga adalah Bambang, petugas Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan bank.

Gugatannya adalah perbuatan melawan hukum. Emmy dan Lalan merasa tidak diberitahu sebelumnya jika rumah itu telah dijaminkan di bank untuk mengajukan pinjaman. Emmy dan Lalan merasa masih punya hak atas rumah tersebut.

Sebagai gambaran Sumiati dan Muradi (alm) memiliki 5 anak. Mereka adalah Emmy Asih (53), Pujiono (46), Hadi Suwandi (44), Lalan Suwanto (41) dan Enik Murtini (40).
(iwd/iwd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed