Jagoan Eropa Turun Gunung, Persaingan ITdBI 2017 Makin Seru

Putri Akmal - detikNews
Selasa, 26 Sep 2017 11:05 WIB
Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Tim balap sepeda asal Jepang, Kinan Cycling Team, bakal bertarung di International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2017. Dengan optimis yang tinggi, tim balap sepeda internasional yang menghuni level Continental, kasta kedua balap sepeda dunia itu bakal turun di bumi Blambangan dengan line uppebalap yang bakal membuat nyali para pesaing menciut.

Pasalnya, tak tanggung-tanggung ada tiga pebalap yang semuanya berpotensi meraih gelar juara individual alias general classification. Pertama, tentu saja juara bertahan International Tour de Banyuwangi Ijen Jai Crawford. Crawford tahun lalu secara mengejutkan menjadi jawara setelah para commissaire mendiskualifikasi Peter Pouly di etape keempat.

Kepercayaan diri pembalap 34 tahun itu semakin kuat lantaran dia datang ke Banyuwangi dengan status sebagai penguasa Le Tour de Filipinas, yang digelar pada Februari lalu.

Di ajang balapan yang digelar di Filipina itu, Crawford hampir saja mengawinkan juara individual dengan gelar Raja Tanjakan, jika saja koleksi poinnya tak kalah dari Mario Vogt yang memimpin perolehan angka dengan selisih 5 poin.

Crawford juga sudah melakukan 'pemanasan' dengan mengikuti Tour de Moluccas pada 19-22 September lalu. Meski ajang balapan yang digelar di Maluku itu masih lebih berat International Tour de Banyuwangi Ijen, fokus Crawford untuk mempertahankan gelar tak bisa disepelekan.

"Juara bertahan pasti jadi kandidat kuat. Kemampuan dia di tanjakan bagus. Begitu juga di rute flat," kata Chairman Tour de Banyuwangi Ijen Guntur Priambodo, Selasa (26/9/2017).

Nama besar lain dari Kinan selain Crawford adalah Thomas Lebas. Situs statistik balap sepeda dunia, Pro Cycling Stats, mencatat spesialisasi utama Lebas adalah pada perebutan juara individual alias general classification. Hal itu terbukti dari rentetan gelar yang pernah dia raih.

Pebalap 31 tahun tersebut baru saja memenangi Tour de Flores pada Juli lalu. Selain itu, dia pernah menjuarai Le Tour de Filipinas 2015, Tour de Hokkaido 2013, dan ajang tahunan yang digelar di Aljazair, Tour International de Setif edisi 2014.

Tak cukup hanya dua nama itu, Kinan masih punya kartu truf ketiga. Dia adalah Ricardo Garcia. Garcia bahkan punya 'unfinished business' dengan International Tour de Banyuwangi Ijen. Tahun lalu, pebalap Spanyol tersebut hampir saja juara dengan menduduki posisi kedua general classification tepat di bawah rekan setimnya, Jai Crawford.

Tahun ini, jika posisinya menguntungkan, bukan tak mungkin Garcia bakal mengambil sendiri peluang juara di depan mata. Apalagi, pada ajang Tour de Moluccas 2017 yang digelar 19-21 September lalu dia merebut etape ketiga yang melintasi rute tanjakan.

"Kinan adalah salah satu tim yang paling berpeluang di International Tour de Banyuwangi Ijen. Mereka bakal mendapat persaingan ketat dari Pishgaman dari Iran yang juga sama-sama dari level Continental," kata Guntur.

Meskipun begitu, International Tour de Banyuwangi Ijen tak hanya arena pertarungan Kinan dan Pishgaman belaka. Persaingan di ajang balap tahunan yang memasuki edisi keenam tahun ini itu lebih merata.

Selain trio Kinan, masih ada tim Kuwait Cartucho. Tim Continental dari Kuwait itu punya dua pembalap andalan. Mereka adalah Stefan Schumacher dan Davide Rebelin.

Schumacher merupakan nama besar di level Eropa. Sejumlah ajang balap sepeda dunia di benua biru itu berhasil dia sabet. Dia merupakan jawara Eneco Tour of Benelux 2006, Tour de Pologne 2006, dan Amstel Gold Race 2007. Pebalap asal Jerman berusia 36 tahun itu bahkan sudah akrab dengan grand tour, ajang paling bergengsi di dunia balap sepeda.

Schumacher pernah meraih kemenangan di dua etape Giro d'Italia 2006. Bahkan, selama dua hari dia mengenakan maglia rosa (jersey tanda pemimpin lomba yang berwarna pink) di Giro. Sebagai pebalap yang bertipe all-rounder plustime trial, Schumacher tak bakal gentar jika harus sendirian meladeni tantangan trio Kinan.

Begitu juga David Rebellin. Rekan setim Schumacher ini memang memiliki spesialisasi sebagai pebalap ajang-ajang classics. Dia pernah menjuarai La Flèche Wallonne pada tiga edisi yakni 2004, 2007, 2009, kemudian Liège-Bastogne-Liège 2004, dan Tirreno-Adriatico 2001. Begitu juga Amstel Gold Race yang dia kuasai pada edisi 2004.

Meski seorang classics specialist, jangan pernah mencoret Rebelin dari daftar favorit juara. Sebagai pembalap klasik, Rebellin memiliki daya tahan tubuh yang jauh lebih baik dibanding para pembalap spesialis tur, raja tanjakan, atau bahkansprinter. Kemampuannya bakal sangat cocok di etape kedua yang merupakan rute terpanjang (180,9 km) dari empat rute yang dilombakan di Banyuwangi Tour de Ijen.

"Tahun ini pertarungan di International Tour de Banyuwangi Ijen jauh lebih seru dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran pembalap Eropa yang sudah berpengalaman bakal meningkatkan kualitas kompetisi. Balapan jadi lebih seru dan menarik," kata Guntur. (fat/fat)