Mengintip Ritual Buang Sial di Bulan Suro

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 22 Sep 2017 16:28 WIB
Ruwatan bulan suro di Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Masyarakat Jawa masih mempercayai bulan suro menjadi momen untuk membersihkan diri (Ruwat). Seperti Ruwat Sukerta yang digelar di Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto.

Ritual yang diikuti ratusan orang dari berbagai daerah ini diawali dengan memakai sehelai kain putih yang dibalutkan pada tubuh peserta. Setiap peserta disiram dengan air kembang tujuh rupa. Ritual dilanjutkan dengan pemotongan rambut peserta dan mengikatkan gelang ke tangan peserta.

"Untuk tolak balak, kesehatan dan pengen anak saya sukses," kata Andriana (45), peserta Ruwat Sukerta asal Sooko, Mojokerto di lokasi ruwatan, Jumat (22/9/2017).

Tak hanya dari Mojokerto, peserta Ruwat Sukerta ini juga datang dari berbagai daerah di Jatim. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tak mau ketinggalan untuk membersihkan jiwa mereka. Seperti Agus Subagio (55), asal Surabaya yang datang bersama anak dan istrinya.

"Tujuannya untuk tolak balak sama melancarkan usaha saya," ujar pria yang mengaku baru pertama kali mengikuti Ruwat Sukerta ini.

Pemangku adat dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa (PLKJ) Koordinator Jawa-Bali yang memimpin ritual Ruwat Sukerta, Ki Wiro Kadek Wongso Jumerek yang memimpin ruwatan mengatakan, tradisi ini merupakan warisan dari Sultan Agung Mataram yang diadopsi Majapahit.

Bulan Suro sendiri sebagai bulan suci yang menjadi awal membuka lembaran baru catatan hidup umat manusia. "Jadi, ini budaya lokal orang Jawa yang harus dilestarikan," kata Ki Wiro.

Nama Ruwat Sukerta sendiri, lanjut Ki Wiro, diambil dari kata Suker yang berarti nasib sial dan kotoran. "Makanya diadakan ruwatan untuk menghilangkan kotoran dalam jiwa kita," terangnya.

Air kembang yang digunakan untuk siraman, tambah Ki Wiro, juga tak sembarangan. Menurut dia, air diambil dari tujuh petirtaan suci.

"Terdiri dari air hujan, air laut, sumber, air sendang, embun, air pertempuran dan air kelapa," cetusnya.

Sementara prosesi potong rambut dilakukan sebagai simbol menghilangkan nasib sial dari para peserta ruwat. "Itu simbol penyucian diri," tandasnya. (fat/fat)