DetikNews
Jumat 22 September 2017, 07:31 WIB

Aplikasi Panic Button Polresta Mojokerto 6 Bulan Tak Berfungsi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Aplikasi Panic Button Polresta Mojokerto 6 Bulan Tak Berfungsi Operator aplikasi SAS Polresta Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Smart Aplication for Service City (SAS) yang di dalamnya menyematkan panic button untuk mempercepat penanganan tindak kejahatan di wilayah hukum Polresta Mojokerto, sejak 6 bulan terakhir tak lagi berfungsi. Berbagai persoalan menjadi penyebabnya.

Aplikasi berbasis android ini masih mudah untuk di-download dari google playstore. Hanya saja, registrasi sudah tak bisa dilakukan sehingga aplikasi panic button tak bisa digunakan.

Selain itu, komputer server dan operator SAS yang ada di command center Polresta Mojokerto dialihfungsikan. Padahal saat dilaunching 3 Februari 2017 lalu, aplikasi ini digadang-gadang mampu mempercepat penanganan tindak kriminal dan kecelakaan. Untuk melaporkan ke polisi, korban atau saksi tinggal menekan tiga kali tombol panic button pada smart phone.

"Karena pergantian kapolres, namanya (aplikasi SAS) diganti. Operator diusulkan mengganti nama menjadi OOM atau Onde-onde Moka, tapi sampai sekarang aplikasinya belum bisa aktif," kata Hendra, salah satu operator SAS Polresta Mojokerto kepada detikcom di kantornya, Jumat (22/9/2017).

Baca Juga: Polres Kota Mojokerto Luncurkan Aplikasi Darurat dari Masyarakat

Penerapan aplikasi ini setelah dilaunching, lanjut Hendra, juga kurang maksimal. Aplikasi tak bisa mendeteksi titik koordinat pelapor secara akurat, yakni titik koordinat di aplikasi melenceng 50-100 meter di lapangan.

"Dulu sempat aktif, tak bisa diakses lagi sejak pergantian kapolres sekitar 6 bulanan," ujarnya.

Dikonfirmasi terkait mangkraknya SAS, Kapolresta Mojokerto AKBP Puji Hendro Wibowo menuturkan, komputer server dan operator yang sebelumnya berada di command center sengaja dipindahkan anggotanya ke ruangan lain untuk keperluan supervisi. Menurut dia, aplikasi panic button ini tak lagi berfungsi karena dalam proses pembangunan ulang.

"(SAS) yang buat bukan saya, saya tak mewarisi, saya bikin program baru mengadopsi panic button daerah lain. OOM kami akan bikin," terangnya.

Selain penyempurnaan pada aplikasi, tambah Puji, pembangunan aplikasi panic button juga menyentuh unsur sarana dan SDM. Menurut dia, dibutuhkan kedisiplinan anggota sebagai operator aplikasi tersebut. Termasuk juga penambahan kendaraan SPKT, ambulance dan mobil olah TKP.

"Sedang kami sempurnakan program ini, perbaikan secepatnya," tandasnya.
(fat/fat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed