DetikNews
Selasa 19 September 2017, 23:50 WIB

Surabaya Raih Penghargaan Learning City dari UNESCO

Zaenal Effendi - detikNews
Surabaya Raih Penghargaan Learning City dari UNESCO Risma sendiri yang menerima Learning City dari Unesco (Foto: istimewa)
Surabaya - Surabaya menjadi satu satunya kota di Indonesia yang mendapat penghargaan Learning City dari UNESCO. Surabaya mendapat kehormatan itu bersama 15 kota dunia lainnya yang mampu mengalami kemajuan luar biasa yang dicapai dalam mempromosikan pendidikan dan kehidupan seumur hidup.

Penghargaan ini diterima langsung Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang hadir di Cork, Irlandia sekaligus sebagai pembicara di depan wali kota dunia yang diundang tentang perkembangan kota secara menyeluruh.

Selain Surabaya, 15 kota dunia lainnya yang menerima penghargaan serupa adalah Bristol (Inggris Raya dan Irlandia Utara), Câmara de Lobos (Portugal), Contagem (Brasil), Gelsenkirchen (Jerman), Giza (Mesir), Hangzhou (China), Larissa (Yunani), Limerick (Irlandia), Mayo-Baléo (Kamerun), N'Zérékoré (Guinea), Okayama (Jepang), Pécs (Hungaria), Surabaya (Indonesia), Suwon (Korsel), Tunis (Tunisia), dan Villa María (Argentina).

"Saya berharap UNESCO Learning City Award akan memotivasi kota-kota lain di seluruh dunia untuk terus berupaya mencapai keseluruhan pembangunan secara keseluruhan guna mendapatkan pembelajaran seumur hidup," kata Direktur UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL) dalam siaran rilis yang diterima detikcom, Selasa (19/9/2017).

Risma menilai, Surabaya yang dianugerahi predikat Learning City ini tak lepas dari peran serta para stakeholder. Mulai dari sektor swasta, masyarakat, media dan pemerintah kota sendiri. "Jadi konsep Learning City di Surabaya tidak akan berjalan dengan sukses jika tanpa peran serta semua pihak," kata Risma dalam sambutannya.

Dalam mengembangkan konsep Learning City kata Risma, Surabaya mengajak masyarakat untuk berperan aktif. Ia mencontohkan kampung pendidikan. Di kampung ini, masyarakat setempat menyepakati waktu-waktu belajar bagi anak-anaknya. "Dengan demikian, meski tidak sedang di sekolah, anak-anak dapat belajar secara non-formal dalam bentuk permainan," ungkap dia.

Risma juga menyebut beberapa program yang dilakukannya bersama warga diantaranya membuat Rumah Bahasa dan Rumah matematika, membuat Broadband Learning Center (BLC) di 50 lokasi yang dapat dimanfaatkan warga untuk belajar mengenai komputer dan internet.

"Konsep belajar diterapkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Tak terkecuali mereka dengan kebutuhan khusus. Di Pondok Sosial Kalijudan, anak-anak berkebutuhan khusus mendapat bekal pelatihan sesuai minat dan bakat. Mayoritas anak-anak di sana menggemari pelatihan melukis," kata Risma.

"Berkat pelatihan dan pendampingan rutin, mereka mampu menghasilkan lukisan-lukisan berkualitas. Tak jarang lukisan mereka dipamerkan di sejumlah galery dan harga jual lukisan tersebut cukup tinggi. Dengan demikian, mereka mampu memperoleh penghasilan dari hasil lukisan tersebut," pungkas Risma.
(ze/iwd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed