Kekeringan 7 Desa di Jombang, 4.162 Jiwa Kesulitan Air Bersih

Kekeringan 7 Desa di Jombang, 4.162 Jiwa Kesulitan Air Bersih

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 13 Sep 2017 13:37 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - Musim kemarau mengakibatkan 7 desa di Kabupaten Jombang kekeringan. Sedikitnya 4.162 jiwa di desa-desa tersebut saat ini mengalami kesulitan air bersih.

Salah satunya dirasakan warga Dusun Wonorejo, Desa Ngrimbi, Bareng. Salah seorang warga Sulastri (55) mengatakan, air bersih mulai langka sejak awal Agustus 2017.

"Sudah sebulan setengah tak ada air bersih di kampung kami," kata nenek lima cucu ini kepada wartawan saat mengambil air di hutan Desa Ngrimbi, Rabu (13/9/2017).

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga harus bekerja keras. Setiap siang dan sore, mereka harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak ke sumber air di kawasan hutan Desa Ngrimbi. Berbekal jerigen dan ember, para ibu rumah tangga dan kaum pria harus menempuh jarak sekitar 500 meter untuk membawa pulang air keruh itu untuk mandi.

"Kalau ambil di sini buat mandi saja gatal," ungkap Sulastri.

Meski berakibat gatal-gatal, bagi Sulastri tak ada pilihan lain daripada tak bisa mandi sama sekali. "Ambilnya siang setelah dari sawah sama sore untuk mandi," cetusnya.

Warga lainnya Heri Santoso menuturkan, untuk kebutuhan masak dan minum, warga Dusun Wonorejo mengandalkan sumber air di masjid Desa Ngrimbi. Untungnya masjid berjarak 3 Km itu bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor.

"Bantuan air bersih mengurangi penderitaan warga. Ke depan mudah-mudahan ada wacana untuk ada saluran air walaupun dari Wonosalam. Karena kekeringan setiap tahun terjadi," ujarnya.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jombang Gunadi menjelaskan, musim kemarau tahun ini, krisis air bersih melanda 7 desa di 5 kecamatan. Meliputi Desa Kromong-Ngusikan, Desa Sumberjo-Wonosalam, Desa Ngrimbi, Pakel, Karang Wetan-Bareng, Desa Marmoyo-Kabuh, serta Desa Karang Dagangan-Bandar Kedungmulyo.

"Saat ini total ada 4.162 jiwa yang terdampak krisis air bersih," tuturnya.

Sejauh ini, lanjut Gunadi, penanganan krisis air bersih baru sebatas pengiriman bantuan air ke warga terdampak. Itu pun setiap pekan hanya 2 mobil tanki air berisi 10 ribu liter yang bisa dikirim oleh BPBD. Solusi permanen justru dilimpahkan kepada camat masing-masing.

"Solusi permanen kami imbau para camat agar membenahi sarpras yang ada, memfungsikan lagi pompa yang ada agar sumber air terangkat sepenuhnya," tandasnya. (fat/fat)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.