Asap tebal terlihat di sekitar Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Api dengan cepatnya merembet mengarah ke utara.
Kebakaran ini terjadi sejak Senin (11/9/2017) siang. Petang kemarin api masih terlihat menyala membakar tanaman yang ada di lereng Bukit 29.
Bukit 29 ini terletak di 5 kilometer selatan kawah Gunung Bromo, sejumlah pohon cemara dan tanaman khas Tengger seperti bunga edelweiss ludes terbakar.
Pepohonan kering dan kencangnya angin di musim kemarau membuat api dengan cepat terus merambat. Imbasnya, rumput padang savana sekitar bukit yang disebut bukit teletubies itu turut hangus terbakar. Diperkirakan lebih dari 30 hektar lahan rumput padang savana terbakar.
Upaya pemadaman api mengalami kesulitan. Pasalnya titik api sulit dijangkau kendaraan roda empat. Belum diketahui penyebab kebakaran ini apakah panasnya terik matahari atau karena kelalaian manusia.
Menurut Samsul Huda, salah satu warga, titik awal kebakaran diduga pertama kali terlihat di titik wilayah selatan Bromo. Api akhirnya merambat ke arah utara Bromo.
Asap hitam tebal membumbung dari lahan yang terbakar (Foto: M. Rofiq) |
Menurut Kasi 1 TNBTS, Fariana Prabandari, kebakaran terjadi sejak kemarin. Sisa api masih ada dan merembet ke bukit 29, dan saat ini masih tersisa api yang merambat membakar rerumputan yang tumbuh di tebingnya.
"Api hanya tersisa di bagian tebing Bukit 29, kebakaran ini terjadi sejak kemarin dan masih tersisa sedikit di rerumputan tebing saja," kata Fariana.
Kebakaran yang terjadi di tebing kawasan bromo ini, justru menjadi tontonan turis mancanegara, api yang menjalar terlihat menyerupai cincin saat menjelang malam.
Hingga Senin malam, api sudah dapat dijinakkan dan tak terlihat di dua titik ini. Pengunjung diharapkan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan. Selain rumput dan kondisi kering, angin kencang juga melanda kawasan Bromo. (iwd/iwd)












































Asap hitam tebal membumbung dari lahan yang terbakar (Foto: M. Rofiq)