Saat itu ratusan truk pabrik plastik PT Samiplas Nglames Madiun dihadang warga. Warga melarang truk yang mengangkut tanah uruk untuk pembangunan pabrik plastik melewati jalan desa mereka.
Dengan mengendarai 100 truk, para sopir berorasi di depan pintu masuk gedung kantor dewan. Dengan membentangkan poster dan spanduk bertuliskan: "Opo omah mu mbok gawe soko tepung", "Aku yo bayar pajak", "sopir dump truk cinta damai".
"Pak Joko (Ketua DPRD Joko Suyono) ayo buka jalur truk kami. Kami butuh makan buat anak istri," teriak salah satu sopir dalam orasinya.
Sopir dump truk demo/ Foto: Sugeng Harianto |
Salah satu sopir yang demo, Imam (34) warga RT 1 RW 2 Desa/Kecamatan Karas mengatakan semua rekan-rekannya sudah 4 hari tidak beroperasi dan tidak mendapat nafkah. Sementara kebutuhan sehari-hari terus berjalan dan meningkat.
Baca Juga: Warga 3 Desa di Magetan Hadang Truk Muat Tanah Uruk
"Anak istri kami mau dikasi makan apa kalau semua jalan tidak boleh dilalui. Jadi kami minta keadilan ke DPRD dan Pemkab Magetan," jelas Imam.
Hingga pukul 11.00 WIB, 10 perwakilan sopir truk masih di pertemukan dengan Ketua DPRD Joko Suyono dan Dinas Perhubungan.
Dari pantauan detikcom, 100 armada truk yang dibawa para sopir diparkir di dalam stadion samping gedung DPRD. Mereka berjalan sekitar 200 meter sambil bersorak-sorak. Aksi para sopir truk ini mendapat pengamanan ratusan personel Polres Magetan dan Satpol PP.
Para sopir truk biasanya dalam sehari 4 kali mengambil tanah uruk galian C milik PT Alam Megah Desa/Kecamatan Karas Magetan. Tanah uruk tersebut dibawa ke pabrik plastik PT Samiplas Nglames Madiun. Namun para sopir truk mendapat penolakan warga 3 desa yakni Desa Tanjungsepreh, Winong dan Kembangan kareba dinilai sopir truk ugal-ugalan dan mengganggu ketenagan warga serta menimbulkan debu. (fat/fat)












































Sopir dump truk demo/ Foto: Sugeng Harianto