Pasutri Ini Kompak Membuat Gerakan Daur Ulang Sampah

Pasutri Ini Kompak Membuat Gerakan Daur Ulang Sampah

Michelle Alda - detikNews
Selasa, 05 Sep 2017 07:52 WIB
Pasutri Ini Kompak Membuat Gerakan Daur Ulang Sampah
Foto: Michelle Alda
Surabaya - Sama-sama memiliki kecintaan terhadap lingkungan dan kreativitas dalam mengolah limbah sampah, Gatot Pramono (49) dan Mariam Soemiati Ningsih (47) memberi ide sekaligus menggerakkan warga Margorejo RT 5 RW 3 Surabaya, untuk membuat gerakan daur ulang.

"Iya, kami adalah penginisiasi. Kalau bapak, lebih pada ke pengelolaan limbah untuk pertanian, sedangkan saya lebih ke membuat kreasi dari barang bekas. Seperti tas dari botol teh gelas, kursi dari tutup botol, dan lain-lain," ujar Ningsih kepada detikcom sata ditemui di rumahnya kawasan Margorejo, Selasa (5/9/2017).

Berawal dari jabatan koordinator lingkungan di Bulan Bakti Gotong Royong, Gatot mulai memikirkan gerakan untuk berinovasi membangun kampung dengan limbah.
Salah satu kreasi dari daur ulang sampahSalah satu kreasi dari daur ulang sampah/Foto: Michelle Alda

"Saya miris lihat sampah yang dibuang terus menerus, padahal beberapa dari limbah itu bisa jadi potensi untuk meningkatkan perekonomian warga," ujar Gatot.

Bersama sahabatnya bernama Dedi Cahyadih, Gatot membangun green house pada 22 April 2017.

"Ide memang dari saya tapi penggeraknya bersama. Dedi ini adalah orang yang mensupport saya dikala saya terpuruk saat banyak tanaman mati karena hama," ujar

Mengikuti gerakan positif suami, Ningsih turut mengajak warga untuk mengkreasikan sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual. Ia mengatakan karya daur ulangnya yang dibuat bersama ibu-ibu Margorejo RT 5 RW 3 lainnya dapat meraup uang sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 1 juta.
Warga dan Ningsih mengelola sampah jadi lebih bermanfaat/Warga dan Ningsih mengelola sampah jadi lebih bermanfaat/Foto: Michelle Alda

"Paling murah itu bros dari tutup botol dan kain perca, harganya cuma Rp 5 ribu. Untuk tas, kami jual Rp 40 ribu, kursi Rp 150 ribu, cermin Rp 400 - Rp 500 ribu tergantung ukuran cerminnya. Paling mahal tikar itu, ukuran 2x2 meter kami jual Rp 1 juta," terang Ningsih.

Salah satu kreasinya berupa tikar pun dilirik Wali Kota Tri Rismaharini. Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini akan membeli tikar daur ulang berukuran 1,8x2 meter. Harga yang dipatok Rp 750 ribu.

"Selesai acara 'Merdeka dari Sampah', asisten Bu Risma menemui saya dan bilang mau beli tikarnya," ujar ibu empat anak itu.

Pasutri itu juga mewariskan kecintaannya akan lingkungan kepada keempat anaknya. "Iya, kami ajarkan anak kami untuk mencintai lingkungan dan mengolah limbah juga. Anak saya yang cewek bantu saya bikin kreasi sampah, kalau yang cowok bantu bapak di green house," pungkas Ningsih. (fat/fat)
Berita Terkait