Mengintip Pawang Hujan, Pekerjaan Langka yang Jarang Ditemukan

Michelle Alda Gunawan - detikNews
Senin, 28 Agu 2017 12:38 WIB
Pawang hujan di Surabaya/Foto: Michelle Alda Gunawan
Surabaya - Jasa pawang hujan ternyata diperhitungkan demi kelancaran sebuah kegiatan. Cuaca cerah saat kegiatan di luar gedung tak lepas dari peran Sumali alias Ki Ageng Suronoto (69).

Untuk mensukseskan sebuah acara otomotif di Grand City Surabaya, sejak 20 Agustus 2017, Ki Ageng, sapaan akrab Sumali tidak makan, tidak minum, tidak tidur dan tidak mandi, demi acara berjalan lancar dengan baik.

"Saya harus puasa selama tiga hari sebelum persiapan acara. Ini kan tanggal 23, panitia sudah mempersiapkan laudingnya, jadi saya puasanya tanggal 20," ujar Ki Ageng kepada detikcom.

Ada Pawang Hujan/Payung dan kemenyan sebagai alat penolak hujan/ Foto: Michelle Alda Gunawan
Tak hanya pantangan secara fisik, Ki Ageng juga tidak boleh meminta tolong dan meminta bayaran. "Saya tidak boleh minta tolong, misal minta tolong belikan makan dan lain-lain, lalu juga tidak boleh narget bayaran. Kalau dibayar ya bersyukur kalau tidak pun juga nggak boleh protes," ungkapnya.

Bagi Ki Ageng, kekuatan dalam menjalani pekerjaan sebagai pawang hujan merupakan sebuah anugerah Tuhan. "Ya Alhamdulilah saya bisa kuat. Faktor keturunan dan kesiapan diri untuk tidak makan, nggak minum, nggak tidur, nggak mandi, nggak boleh minta tolong selama eventnya berlangsung, bisa saya jalani berkat anugerah dari Gusti Allah," ujar pria yang telah menjadi pawang hujan selama 9 tahun itu.

Dengan mengombinasikan doa dalam bahasa Jawa dan Arab, tiap malam Ki Ageng berdoa sambil bertapa di halaman depan Mall Grand City selama enam hari.

Ada Pawang Hujan/doa dalam bahasa Jawa dan Arab/ Foto: Michelle Alda Gunawan
"Tiap malam saya doa, saya nyalakan dupa. Ini dupa nggak boleh mati," tambahnya seraya menyalakan dupa.

Ki Ageng sendiri melengkapi ritual menangkal hujan adalah sapu lidi yang di letakkan terbalik dengan cabai dan bawang di ujungnya, janur kuning dan kertas bertuliskan doa-doa dengan bahasa Arab dan Jawa. Selanjutnya diikatkan ke pohon di halaman Mall Grand City.

"Ini kalau eventnya sudah selesai harus dilepas, kalau nggak ntar area sini tidak bisa kena hujan," pungkas bapak dari tiga anak itu. (fat/fat)