Ludo Pancasila, Belajar Nasionalisme Jadi Lebih Menyenangkan

Michelle Alda - detikNews
Jumat, 25 Agu 2017 10:56 WIB
Sebastian Hadi dan karyanya, Ludo Pancasila (Foto: Michelle Alda)
Surabaya - Mempelajari Pancasila melalui buku cetak terkadang membosankan. Namun Sebastian Hadi, seorang guru seni rupa di Sekolah Dasar Teologi Kristen (SDTK) Pelangi Kristus Surabaya, punya cara menarik untuk membunuh kebosanan itu.

Pria 27 tahun itu membuat board game bertema Pancasila. Mempelajari Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN) pun jadi lebih menyenangkan. Ludo Pancasila, itulah nama board game karya Sebastian.

Permainan yang didesain untuk anak dan remaja usia 11-17 tahun itu dibuat agar dapat dimainkan sambil memahami nilai-nilai Pancasila secara keseluruhan melalui kelima silanya.

"Saya membuat permainan ini supaya melatih anak-anak untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari," ujar Sebastian melalui tulisan kepada detikcom di SDTK Pelangi Kristus Surabaya, Jumat (25/8/2017).

Cara bermain Ludo Pancasila itu juga unik. Dadu yang biasanya digunakan untuk menentukan langkah permainan didesain dengan gambar kelima sila Pancasila dan Garuda Pancasila.

Dadu didesain dengan gambar sila PancasilaDadu didesain dengan gambar sila Pancasila (Foto: Michelle Alda)
"Nah kalau ini berarti kamu maju tujuh langkah. Ini dihitung sesuai silanya, kalau garuda dihitung 6," ujarnya menerangkan.

Setelah berhasil menghitung dan menyebut sila yang ada pada dadu itu, pemain diizinkan untuk melangkah. Bila pemain tidak berhasil atau salah menyebutkan sila yang tertera pada dadu, maka pemain tidak boleh melangkah.

Setelah melangkah, pemain mengambil salah satu kartu yang berisi kuis terkait penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

"Mengembangkan rasa bangga sebagai Bangsa Indonesia adalah wujud pengamalan Pancasila, yaitu sila..." Itu adalah salah satu contoh soal kuis yang ada pada kartu tersebut. Kuis tersebut dibuat dalam bentuk pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban.

Tak hanya Ludo Pancasila, Alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra ini juga membuat permainan kartu kwartet beserta peta buta sebagai sarana untuk anak-anak SD-SMP mempelajari berbagai provinsi di Indonesia.

"Ayo kamu punya Riau nggak, kalau punya kasih aku," ujar Sebastian dengan bahasa tubuhnya saat menyimulasikan permainannya.

Setelah kartu Riau itu terkumpul menjadi 4 kartu, Sebastian meletakkan kartu tersebut pada tanda Kepulauan Riau. Meski karyanya dapat memupuk nasionalisme anak-anak, namun Sebastian mengaku hingga saat ini masih belum menjadi sosok yang begitu nasionalis.

"Belum menjadi lebih tepatnya. Tapi saya memang ingin mencintai Indonesia. Saya terinspirasi dari camp kepemimpinan di UK Petra dan Yeremia 29:7," pungkasnya melalui secarik kertas.

Apa yang dibuat oleh Sebastian memang luar biasa di tengah keterbatasannya. Sebastian mempunyai keterbatasan dalam mendengar dan berbicara. Keterbatasan itu sudah dia alami sejak ia lahir. Namun di tengah keterbatasannya, ia mampu menjalani kehidupannya seperti orang kebanyakan, bahkan ia mampu berkarya.

Dengan Ludo Pancasila, belajar PKN jadi lebih menyenangkanDengan Ludo Pancasila, belajar PKN jadi lebih menyenangkan (Foto: Michelle Alda)
(iwd/iwd)